Selasa, 23 Agustus 2016

Bahasa Sunda, Bahasa Pertamaku

       Jujur saja, kutipan dibawah ini adalah jawaban saya setiap mendapatkan pertanyaan tentang (kuliah) Sastra Indonesia:
"Minat gue tuh sebenernya ke Bahasa Sunda, tapi Bahasa Sunda bukan bahasa utama gue, makanya gue pilih Sastra Indonesia"
      Dua tahun lalu saya memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Sunda, terutama variasi dialeknya. Saya sampai rela mengunjungi daerah-daerah dimana Bahasa Sunda "bersaing" dengan Bahasa Cirebon dan Bahasa Jawa seperti Kandanghaur, Lelea, dan Majenang untuk melihat perbedaan Bahasa Sunda di daerah-daerah yang saya kunjungi itu dengan Bahasa Sunda mainstream. Seluruh kunjungan itu saya lakukan sendirian, tanpa terpikir kelak akan menjadi mahasiswa jurusan sastra haha!
      Bahasa Sunda adalah bahasa pertama dan bekas bahasa utama saya, kedua orang tua saya mengajarkan Bahasa Sunda sebelum Bahasa Indonesia. Bahasa Sunda kemudian tidak lagi menjadi bahasa utama saya lagi, bahasa di rumah berubah menjadi Bahasa Indonesia sejak saya menguasai bahasa tersebut, mungkin sekitar 15 tahun sudah Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama saya, meski dalam pergaulan dengan teman sebaya masih berbahasa Sunda, penggunaannya pun turun drastis sejak menetap di Jatinangor yang memiliki dialek Melayu sendiri, saya lebih banyak berbicara nyunda ketika tinggal di Bogor yang dekat dengan tanah Betawi, bahkan beberapa desa di utaranya saja Betawi.
    

Bahasa Melayu dialek Jatinangor

Bahasa Melayu Jatinangor adalah dialek Bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah pendidikan Jatinangor. Penuturnya berasal dari kalangan mahasiswa. Berikut contoh kata-kata Bahasa Melayu Jatinangor:
1. Aing/Urang: Saya
2. Maneh: Kamu
3. Akang: Kakak (tingkat) Laki-laki
4. Teteh: Kakak (tingkat) Perempuan
Biasanya penutur bahasa Melayu Jatinangor mengalami kesulitan ketika melaksanakan ibadah Shalat Jum'at, karena beberapa Surau di Jatinangor menggunakan Bahasa Sunda dalam ceramah dan pupujian.

Minggu, 26 Juni 2016

Cerahnya Hidupku Tanpa Takhayul

Awan mendung sering berakhir dengan rintik air hujan yang turun, awan mendung kadang juga datang sebagai kecohan yang sejenak menyembunyikan langit cerah.
      

  • Prolog       

Tulisanku ini bukan cerita fiksi, sampai sekitar setahun lalu aku masih percaya bahwa aku adalah manusia yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu meramal dan melihat hantu sekaligus memberikan perintah pada mereka. Dalam salah satu kelompok bermainku bahkan aku dikenal sebagai salah satu peramal yang akurat dan ahli perhantuan mumpuni. Kini aku percaya bahwa aku dan semua orang adalah manusia biasa, aku bisa menyebut Nabi sebagai manusia luar biasa, tapi setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing, para Nabi memiliki keistimewaan sebagai manusia yang diutus Tuhan, mukjizat mereka yang diluar nalar biarlah menjadi peneguh imanku, jadi aku dapat kembali pada kesimpulan bahwa semua orang adalah manusia biasa.
 Konon, kemampuan istimewaku itu didapat dari garis keturunan, ibuku mendapatkan warisan ilmu itu dari kakeknya, dan aku adalah pewaris kemampuan ibuku. Ibuku memang seorang peramal juga, entah ia masih percaya atau tidak karena setidaknya sudah tiga tahun aku tidak berbicara dari lagi dengannya sejak harta melimpah yang datang secara tiba-tiba memisahkan hati kami hingga sekarang dalam masa kebangkrutannya. interaksi dengan ibuku sekarang hanya sebatas doa Rabbigfirli waliwalidaya yang kupanjatkan sehabis salat.

  • Ibu

Ibu adalah pembimbing kemampuan istimewaku, Ibuku menjelaskan soal dunia lain, mengapa rumahku di Bogor begitu mistis, hantu-hantu yang kulihat sekelebat maupun cukup lama, termasuk siapa macan putih yang paling sering menampakan diri, yang ia bilang sebagai pengikut keluargaku, siapa pocong di bawah pohon rambutan yang benar-benar terlihat begitu nyata saat SD, suatu penampakan paling lama yang kulihat. Ibu juga lebih dari sekali mengingatkan aku, perempuan pilihanku tidak akan berjodoh denganku jika ia tidak cocok dengan ‘makhluk’ yang ada dalam diriku.
Ibuku menceritakan juga padaku tentang ramalan-ramalannya dan yang terjadi, seperti kepergian kakekku dan jabatan tinggi yang akhirnya diraih oleh salah satu saudara. Ramalannya tentang diriku adalah tidak tamatnya aku di bangku SMA karena akan menjadi orang yang melanglangbuana sehingga ia memasukanku ke sekolah dasar di usia 5 tahun, nyatanya aku tidak tamat meneruskan kuliahku di jurusan Pendidikan Teknik Elektro (PTE), bukan SMA, itu juga bukan karena melanglangbuana, tapi karena depresi akibat masalah-masalah keluarga di awal perkuliahan, plus lalasutan dalam kuliah setelah masalah-masalah keluarga itu satu persatu beres. Tidak lupa jua ia bercerita tentang temannya dari India yang meramal aku akan menjadi seorang insinyur, nyatanya sekarang aku kuliah di jurusan Sastra. Insinyur bahasa daerah se-Pulau Jawa? #MikirKeras

  • Selamat Jalan Ramalan!


Aku mulai meramal sekitar 5 tahun lalu, waktu itu banyak sekali orang yang bertanya soal masa depan terutama jodohnya, sampai saat kenaikan kelas XII aku pindah ke Bandung dan klien-klienku pun menghilang, meski begitu salah satu klien, sekaligus sahabatku kerap mengirim pesan padaku, soal ramalan-ramalan yang kuucapkan ketika SMA dulu, yang banyak terjadi belakangan ini. Belum lama ini aku mengirim pesan padanya tentang ketidakpercayaanku pada hal-hal itu lagi.
Ramalanku itu tentang masa depannya ketika kuliah, kukatakan kekasihnya itu kelak akan menjadi perempuan bergaya hidup matre dan ia akan dekat dengan banyak perempuan, hubungan mereka renggang tapi selalu bersama yang dalam bahasa Sunda Awet rajet dan beberapa hal terjadi. Ia mempercayai hal-hal yang terjadi itu sebagai hasil ramalanku yang akurat, ia mengabaikan gagalnya ramalanku soal hubungan renggang yang ternyata putus (akibat orang ketiga pula) dan gagalnya kami kuliah di kota yang sama. Kekasihnya yang kini sudah berstatus mantan itu menjadi perempuan bergaya hidup matre sekarang sepertinya karena lingkungan pergaulannya plus kekasihnya sekarang yang kaya.
Oh iya, menjelang lulus SMA aku yang hanya memikirkan FMIPA ITB dan Ushuluddin UIN sebagai kampus tujuanku malah mendapatkan ‘penglihatan’ bahwa aku akan kuliah di Unpad, gerbangnya sampai terbayang. Kini aku memang kuliah di Unpad, itu semua adalah hasil nego dengan ayah soal kuliahku yang berantakan akademis dan non akademis di PTE dan hasil belajar sekitar tiga jam per hari tiga minggu sebelum SBMPTN tahun 2015 dilaksanakan.
Sebenarnya masih banyak ramalan-ramalanku, ibuku, temanku dan orang lain yang tidak terjadi sama sekali atau dapat dijawab dengan kenyataan sebetulnya, tetapi ramalan-ramalan diatas kurasa sudah banyak dipermalukan oleh kenyataan yang menjawabnya tanpa bisa dibantah. Selamat tinggal ramalan, selamat datang cita-cita, semoga terangnya kenyataan menjawab cita-citaku dengan indah.

Senin, 30 Mei 2016

Keluarga-utuh Normatif

Keluarga-utuh normatif, pandangan bahwa kehidupan keluarga hasil perceraian tidak berbeda dengan kehidupan keluarga utuh. Keluarga-utuh normatif membuat seseorang menilai wujud timbal balik antara anak dan orang tua dalam keluarga bercerai harus sama seperti layaknya keluarga utuh. Contohnya ucapan-ucapan ini :
  1. "Parah banget lu gak nyempetin mudik, ibu lu kan disono" 
  2. "Gila lu tiga tahun gak ketemu babeh padahal tinggal sekota" 
  3. "Ayah lu ayah macem apa sih? kerjanya bagus kok lu tetep disuruh minta duit ke ibu?"
  4. Ceramah akan pentingnya berbakti kepada orang tua, seolah-olah semua anak broken home lupa ia lahir dari rahim ibunya dan berasal dari sel sperma ayahnya, ini yang paling menyebalkan dan paling parah.
Saya sendiri, sebagai anak broken home yang mengetahui keberadaan kedua orang tua, masih berhubungan baik dengan kedua keluarga besar masing-masing orang tua, bersikap biasa saja setiap menghadapi pelaku keluarga-utuh normatif ini, tetapi bagaimana dengan teman-teman broken home yang lain? mereka yang tidak tahu dimana rimba salah satu orang tuanya? mereka yang lahir dari pernikahan yang tidak sah secara negara? mereka yang tidak diizinkan bertemu dengan orang tua kandung oleh orang tua tirinya? mereka yang salah satu orang tuanya proletar sementara orang tua yang satunya lagi borjuis?.


Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Baca Atheis, Nanti jadi Atheis?

Pada kata pengantar cetakan 1990 dikatakan bahwa Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang tipikal bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup yang tradisional ke gaya hidup yang  modern, yang terasa sekali di bidang sosial, budaya dan politik. Pergeseran itu memberikan imbas antara lain gesekan antar paham dan pergolakan batin  
Roman Atheis, semua berawal dari pertemuan kembali dua sahabat lama yaitu Rusli dan Hasan, selain pola asuh yang berbanding terbalik pada masa kecilnya, keduanya berjumpa dalam perbedaan kepercayaan yang ruang lingkupnya bukanlah agama lagi, melainkan konsep teologis tentang ketuhanan, Hasan adalah seorang theis yang memeluk Islam sejak kecil dan Rusli adalah seorang Atheis, yang tidak percaya pada keberadaan Tuhan. Kedua penganut paham ini entah mengapa pada awalnya sama-sama menunjukan kefanatikan terhadap pahamnya masing-masing melalui perdebatan, kalau saya meminjam istilah seleb ask.fm favorit saya “orgasme”, pada Hasan yang theis ia melakukan “orgasme iman” dan pada Rusli “orgasme atheisme”. Bagi saya novel Atheis menggambarkan keantagonisan kaum Religi dan Irreligi.
“Apa artinya kepandaian manusia itu, bila dibandingkan dengan kepandaian Tuhan yang menciptanya." Dengan tak kusangka-sangka, Rusli tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja, sambil menggulung-gulung lagi sebatang rokok baru. Mukanya tetap tenang. Beberapa jurus kemudian, barulah ia berkata lagi, tapi seolah-olah tak acuh akan perkataan barusan itu. Ujarnya, "Dan saya yakin, bahwa pada suatu saat, entah sepuluh tahun lagi, entah seratus tahun lagi, entah seribu, dua ribu tahun lagi,  kepandaian  dan  pengetahuan  manusia  itu  akan sedemikian  majunya,  sehingga  ia  akan  sanggup menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.” (Atheis, 1990: 83-84)
Siapa sangka Hasan kemudian terpengaruh oleh Rusli menjadi seorang penganut atheis, menurut saya pilihan Hasan menjadi atheis ini ia lakukan dengan mudah, karena tampaknya sebelum berjumpa dengan Rusli ia tidak pernah melakukan perenungan terhadap kehidupan beragamanya. Efek psikologis dari masa kecilnya yang selalu ditakut-takuti tentang neraka dan ketenangan orang tuanya setelah beribadah, meskipun dipengaruhi Kartini juga :
“Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka. Itulah, maka aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang agama, dan kalau aku lengah sedikit saja, maka segeralah aku diperingatkan kepada hukuman dan siksaan dalam neraka. Makin besar, makin rajinlah aku melakukan perintah agama, dan dongeng-dongeng tentang neraka itu tidak luntur, melainkan malah makin menempel terus dalam hatiku” (Atheis, 1990: 26-27)
Pada novel ini tokoh utama Hasan dimatikan hidup dan pikirannya juga, bagaimana akhirnya ia kembali pada perasaan berdosa lagi, perenungannya kembali pada keberadaan Tuhan lagi dan merasa dekat dengan Tuhan lagi, kematiannya pun mengucapkan kata Allahu Akbar, meskipun saya tidak tahu apakah kata tersebut keluar hanya sebagai refleks saja atau memang Hasan telah kembali tunduk kepada Tuhan.
Novel Atheis entah mengapa hanya mempertemukan tokoh-tokoh berpaham “kiri” nan materialisme sebagai penganut paham Atheis, seolah-olah semua penganut paham “kiri” semuanya adalah atheis, apakah karena semangat pembebasan yang begitu tinggi dalam paham “kiri”  dan latar belakang Ahadiat K.Mihardja yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia? Jika melihat pada novel ada kisah tentang Hasan yang mandi di sungai Cikapundung pada dini hari dan Anwar yang menerobos makam yang dipercaya keramat, apakah ada keinginan penulis juga yang ingin membebaskan bangsa dari takhayul dan kehidupan religius yang terlalu berorientasi pada hari kemudian tapi lupa kepada masa sekarang.
Saya sendiri merasakan pengalaman batin dari membaca novel Atheis ini, saat pertama kali membacanya saat SMA  dengan polosnya saya semakin menganggap komunis sebagai paham dari orang-orang yang tidak bertuhan. Namun, setelah membaca novel Atheis untuk kedua kalinya alih-alih semakin tidak menyukai komunis, saya malah merasa perlu lebih maksimal lagi dalam menjalani kehidupan beragama, yakni Iman yang harus selalu tetap dalam keluhurannya dan Taqwa ritual-sosial yang lebih lagi. 
Pembaca zaman ini banyak yang telah mengetahui kalau dunia barat semakin didominasi penganut Irreligi dengan konsepnya yang bermacam-macam, dari mulai deis, atheis, agnostik, panteis, dll, jadi Kalau dikatakan novel Atheis menyebarkan paham Atheis dan membuat pembacanya dapat menjadi seorang atheis jelas terlalu berlebihan. Hahaha