Jumat, 05 Februari 2016

Sumedang (Curhat)

    Saya tidak berada di daerah pusat kabupaten Sumedang, saya berada di perbatasan Sumedang-Bandung, tepatnya Jatinangor, saya di Jatinangor untuk kuliah di Universitas Padjadjaran yang identik dengan 'Bandung'. koran Bandung lebih mudah didapat ketimbang koran Sumedang disini. Banyak orang yang tidak menyangka juga daerah Jatinangor termasuk dalam wilayah kabupaten Sumedang.
       Belum ada perubahan drastis di kehidupan sehari-hari setelah keluar dari Bandung. masih belum bisa ngatur pola tidur dan pola makan, belum coba menghasilkan uang sendiri, masih mudah tersiksa berlama-lama dalam kumpulan orang biarpun saling kenal, masih belum yakin sifat introvert yang Napeul pada saya sekarang itu adalah pemberian lahir seperti sumber-sumber di internet, masih merasa tujuh tahun hidup tanpa diajarkan sosialisasi adalah penyebab saya akhirnya menjadi seorang introvert. orang yang menggunakan banyak waktu sendiri untuk memenuhi kepuasan pribadinya.
       Persenan perubahan gaya belajar ke arah yang lebih baik juga masih kecil, baru sekitar dua puluh sampai tiga puluh persen. Kuliah Sastra, minat kepada bahasa dan hobi membaca karya Sastra adalah hal-hal yang berbeda. membaca puisi dan cerpen membuat saya merasa puas setelah menamatkannya. tentang minat saya kepada bahasa, cukup stalking akun orang Sunda Banten dan orang Sunda Cilacap dan menemukan perbedaan kedua dialek Sunda itu pada bahasa Sunda yang gunakan sehari-hari sudah membuat saya puas, umpan balik dari kedua kegiatan itu selain kepuasan pun sejauh ini belum saya temukan lagi. menjadi mahasiswa Sastra membuat saya harus keluar dari "Zona Puas" itu. meski sejauh ini saya puas bisa kuliah di bidang Sastra, setiap mata kuliah saya jalani dengan antusias (Abaikan mata kuliah yang dosennya saya tidak suka!), tugas-tugasnya tidak membuat saya tertekan meski dalam situasi deadline dan ada kepuasan tersendiri saja ketika menjalani kuliahnya, fikiran dipacu untuk kreatif meskipun mungkin setiap perguruan tinggi tetaplah pabrik buruh di Indonesia.
    Membaca menjadi hobi baru saya, frekuensi main PES setiap harinya berkurang, terakhir saya membaca buku filsafat sejarah yang ditulis Hegel dan baru sampai halaman seratusan. saya harap dengan membaca buku tersebut akan menjadi pintu bagi saya untuk memahami Kierkeegaard, Sartre yang pikirannya belum dapat saya jangkau. juga kedepannya untuk memahami Komunis baik itu Marxisme, Leninisme dan Maoisme, agar ketidaksetujuan saya terhadap Komunisme tidak menjadi kebencian buta belaka hanya karena kejamnya pemerintahan Korea Utara dan buku hariannya Soe Hok Gie.
Bersama kedua teman sejurusan saya, Naufan Ghifari dan Zulfah Nazala, tempat di Cikuda, Jatinangor, Sumedang.
      Orang lain mungkin bingung mengapa saya betah di kamar kostan ketika libur kuliah dua bulan lamanya, tapi jujur saya malas sekali untuk pulang ke rumah "de jure" saya di Bandung. Ayah saya tidak memiliki rumah pribadi, saya tinggal di rumah almarhum kakek, di rumah tersebut saya tinggal bersama saudara saya di rumah tersebut dan tidak dekat setelah serangkaian konflik, saya pulang karena saya sangat cinta ayah dan adik saya saja yang datang ke rumah tersebut setiap akhir pekan, komunikasi dengan ibu memburuk, hampir setahun saya tidak ingin menemuinya. berat untuk merasakan rumah kakek saya tersebut adalah rumah saya, ibarat memaksa saya sebagai homophobia yang berorientasi seksual heteroseksual menjadi homoseksual, yang ada makin kuat perlawanan saya, bahkan mungkin saya lebih memilih mati, saking gak sudinya.
      Kedua orang tua saya berpisah enam tahun yang lalu, sering terlintas pertanyaan dalam diri saya "Mengapa ayah saya tidak punya rumah, padahal dia menikah di usia yang cukup tua, apa yang dilakukannya di masa muda?" dan "Mengapa ibu saya menggunakan hasil penjualan rumah orang tuanya untuk berfoya-foya dan mengasingkan diri ke perkampungan kumuh? tidak ingatkah ia akan kedua anaknya yang masih muda?".
      Ibu saya lahir dari keluarga kelas atas, hidup dengan ayah saya dengan kehidupan kelas menengah saja sudah membuat dia frustasi sampai menceraikan ayah saya, mengapa kini ia memilih kehidupan kelas bawah juga tanpa pekerjaan? apakah jiwanya sudah terlalu sakit? sudah tidak inginkah (-dan mungkin tidak diinginan keluarga besarnya untuk) hidup lebih lama? sebenarnya saya lelah akan tingkah ibu saya, meskipun saya juga sungguh tidak terima kalau ibu saya terus jadi badut di keluarga besar, bahkan ada pasutri yang rumah tangganya amburadul juga tidak lewat untuk menjadikan ibu saya badut. untung saudara jauh, yang mulai generasi anak saya kelak nanti tidak akan mengenal mereka.
   

Kehidupan Beragamaku

   Sebagai orang yang menganggap semua Khulafaur Rasyidin sama mulianya dan tidak mengutamakan Ali, kehidupan beragama saya pernah diliputi keraguan, terlalu banyak perntanyaan atau cerita dari penganut irreligi yang menguatkan bahwa agama itu hanya sebatas ideologi kuno dan kisah fiksi, terlalu banyak juga perbuatan segelintir ormas bahkan partai agama yang menunjukan jahatnya agama, dan yang paling buruk terlalu banyak kajian yang sifatnya hanya siraman rohani, bukan isian rohani, akhirnya tak terpenuhi lah kebutuhan rohani, namun biarlah kehidupan beragama saya bertahan hanya karena kata-kata yang malah membingungkan kalau dicari bagaimana praktisnya, Iman dan Ihsan. Sejauh ini 10 kepribadian muslimnya Hasan Al-Banna adalah sesuatu yang mengagumkan, meskipun saya tidak setuju dengan gerakan Ihwannul Muslimin. Mencari ilmu agama adalah salah satu agenda saya selama berada di Sumedang.

Sabtu, 26 September 2015

Belajar Nulis Puisi Ceritanya I

             Dua puisi yang ditulis tanggal 10 April 2015 ini nulisnya dibawah pengaruh dua buku mitologi India (Ramayana dan Bhagavad Gita) yang dipinjem dari perpustakaan, dan sekarang malah lupa gimana mitologi India mengaruhin tulisan ini.



Ada dan Tiada
Keadaan punya awal dan akhir
Sinar benderang bakal redup juga
Dunia ge bakal kiamat
Kalau di perjalanan kau temui jalan tak tersebrangi
Cengkram erat jiwamu, Injak dingin kalbumu
Segera arungi arti kehidupan!

Ketidakadaan itu tak berawal dan tak berakhir
Semesta tak pernah lahir
Sejarah tak pernah mati
Kalau nanti di tujuan kau temui musibah yang dikandung keberkahan
Lepaskan pikiranmu, hilangkan hati nuranimu
Keadilan hanya nampak ada,
Kesepian nampak tak ada.
Hakiki itu tidak ada.

                                                                    *******

Palsu
Karena daulat selalu digugat, darah pun terus tumpah
Dunia jadi melebur dalam didihan dogma angkara murka
Penghuninya tak pernah lelah mempersiapkan kehidupan setelah kematian
Terlalu banyak waktu diluangkan untuk memikirkan kehidupan setelah kematian

Ada sedikit penghuni dunia yang tak khawatir pada teka-teki kehidupan setelah kematian
Tak ada waktu bagi mereka memikirkan kehidupan setelah kematian
Mereka disana hanya ingin mati bersama
Mereka yakin dalam gelap lebih terang ketimbang disinari cahaya lancung.
Dunia begitu maya

                                                                    *******

         Tanggal 23 September 2015, Ini lagi nyoba bikin puisi tentang cinta. tema cinta pertama yang ane buat kayaknya :

                                                                     Tatap Mata
Kepada tatapan mataku yang tiba-tiba terbalas tadi
Tanyakanlah apa saja yang dipandang indah olehnya
Temukan apa yang luput dari indra penglihatanku padanya
Sehingga aku tahu mengapa sejauh itu ku mengaguminya

Wahai tatapan matamu yang tak sengaja membalas tadi
Tataplah juga perasaanku yang lebih dalam dari sedangkal godaan sang pujangga
Kagumilah kesejatianku yang sesungguhnya tak seperti pandangan mereka
Supaya kelak tatap mata kita kan kekal berjumpa
                                                            
                                                                    *******

      Tepat kemarin atau tanggal 25 September 2015, ada temen yang curhat dia itu susah minta maaf duluan sama lawan jenisnya, pikiran ane lalu melayang ke suatu pertengkaran (sama lawan jenis juga) yang damai tanpa satu kata maaf pun dari kedua pihak, secara natural aja damainya. ane langsung baper dan buka laptop xD 

Bahtera
Dalam kata maaf yang tak terucapkan
Pada ragu yang bermuara kenihilan
Terarungi aliran kegelisahan penuh tanya
Terlalui keteguhan yang jua mengantar hampa

Tak terteduhkan oleh layar,
Jiwa yang berlabuh di angan tak kesampaian


Kamis, 06 Agustus 2015

Aturan Kost

         Kadang masih gak terima dengan aturan mayoritas kost "Tamu dilarang menginap", "dilarang pulang lewat jam sekian" sementara rata-rata harga sewa kost lebih mahal dari harga sewa rumah bersama teman-teman dengan segala kebebasan dan sering kali tarif listriknya jauh lebih murah, meski mungkin salah saya sendiri yang gak minta izin pemilik kost buat ikut nginep di kostan sampe seminggu, sebenarnya saya lebih suka ditegur langsung kalau motor pemberian ayah saya itu makan tempat, salah tempat parkir atau bahkan seandainya gak seharusnya ada saya dan motor saya di kost milik bapak tersebut ketimbang mengusir saya secara halus yaitu dengan menyindir saya lewat berkata pada tukang loak bawa saja motor saya seandainya muat di karung dan gerobaknya.
        Bapak mungkin gak peduli alasan teman saya itu memberi 'tumpangan' ke saya dan juga situasi keluarga dan rasa malas saya untuk cepat-cepat menghuni kost baru saya di Sumedang yang menjadi alasan saya memilih 'numpang' di kostan milik bapak sejak kontrakan saya di Bandung habis atau pertemanan kami yang terjalin sejak SD sampai satu sekolah saat SMP-SMA dan sempat satu tempat kuliah, bahkan satu gedung fakultas. coba saya ambil hikmahnya, secara tidak langsung bapak sudah mengajarkan saya untuk kedepannya mengalahkan rasa malu saya untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal baik dalam situasi menyenangkan maupun tidak.
        Sayang tadi saya panik dan memilih langsung ke kamar kost baru saya dipinggiran Sumedang tanpa meminta maaf ke bapak apapun reaksi dari bapak yang akan saya terima. dan akhirnya saya sadar juga kalau tak ada tempat senyaman rumah atau di lingkungan keluarga, apalagi kalau keluarga kamu utuh.

Selasa, 14 Juli 2015

Mengikuti SBMPTN Setelah Dua Tahun Kuliah

Pembaca yang budiman, sebelumnya anda bisa membaca artikel yang saya tulis Desember tahun 2013 lalu disini ketidakbersyukuran yang mungkin kini saya sesali namun telah menjadi bagian hidup saya dan sepatutnya jadi motivasi saya untuk selalu berusaha menjadi individu yang lebih baik.

#Menyesal itu tak pernah di awal
Saya seorang lulusan SMA tahun 2013, tahun 2013 diterima SBMPTN dan kuliah di jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI, sebagai "Calon Insinyur" yang sekaligus didapuk sebagai "Calon Guru SMK" saat itu saya malah terlalu bahagia hanya karena diterima di PTN, dan sesudah euforia bisa diterima PTN itu saya menderita "Syndrom ITB-UIN Jakarta" dan saya tidak berjuang memerangi kemalasan saya dalam mendalami keilmuan Teknik Elektro tersebut, Ketika teman-teman saya membeli atau meminjam buku Elektronika dasar, Teknik Digital, Kalkulus Purcell atau Fisika Giancolli, Saya malah berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku Mahabrata, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran dan buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan keilmuan Teknik Elektro, saya juga tidak berusaha keras memperbaiki IP jelek saya yang seukuran pensil (IP paling tinggi saya 2,3) dan mungkin terancam drop out.

#Keputusan Besar
Pada penghujung bulan April/Mei 2015 selain dihantui Drop Out, saya juga merasa jenuh di jurusan Teknik Elektro, setelah empat semester perkuliahan saya mendadak saya menginginkan sesuatu yang indah dalam kuliah saya baik dari segi akademik maupun kehidupan sosial dan kehidupan saya di masa mendatang, saya shalat istikharah antara harus bertahan di UPI atau pindah ke kampus lain, permintaan untuk ikut SBMPTN tahun 2015 tepat pada hari ulang tahun saya ke 19 mungkin menjadi kado pahit yang saya berikan pada ayah saya. Tahun 2014 juga saya ingin mengikuti SBMPTN lagi, namun ditolak keras oleh beliau, namun tahun 2015 ini Alhamdulillah Ayah saya merestui rencana saya tersebut tanpa marah sama sekali, faktor niat yang berbeda sepertinya, 2014 itu "ITB Syndrom" sedangkan di tahun 2015 niatnya kuliah sesuai minat, lancar dan mencerahkan masa depan.

#Persiapan SBMPTN
Dalam persiapan saya menghadapi SBMPTN 2015, saya langsung mencari-cari lagi referensi kampus dan jurusan, berniat beralih bidang keilmuan dari Sains dan Teknologi ke Sosial Humaniora, memastikan kalau ketiga pilihan yang tersedia di kartu peserta SBMPTN adalah keilmuan yang saya MINATI. Saya kemudian memilih Universitas Padjajaran dan Universitas Jenderal Soedirman, Dua PTN yang nyaris sama sekali tak saya lirik ketika kelas 12 SMA dulu, karena menganggap kedua PTN tersebut adalah "PTN Kelas dua yang tidak setara dengan dua gajah dan kampus dimana Go-Jek dihadang ojek pangkalan" kini jadi harapan saya untuk dapat memperbaiki nasib, semacam kualat.

Bank soal SBMPTN 2013 saya gunakan lagi, saya meminjam buku latihan soal bimbel 2013 lalu kepada teman bimbel saya (Hatur nuhun pisan Agri Pasca Ramdhani, semoga dibalas pahala berlipat-lipat), karena buku latihan soal bimbel saya sudah hilang. Awalnya saya merasa kesulitan belajar ilmu sosial terutama Matematika Dasar dan Geografi, Alhamdulillah lama-kelamaan terbiasa, apalagi setelah mendapat kunci jawaban dan pembahasan latihan soal SBMPTN yang banyak tersebar di Internet. bahkan saya sangat menyukai belajar Ekonomi waktu itu, Pelajaran yang menjadi alasan saya untuk tidak masuk IPS saat SMA, Namun di pelajaran Geografi saya masih kesulitan, akhirnya H-3 SBMPTN saya memutuskan untuk menyewa guru privat meski dalam sekali pertemuan, sesi privat yang hanya dua jam tersebut tidak banyak membahas soal, tapi sangat membantu saya mendapat gambaran materi Geografi secara sistematis. 


#Hari Ujian SBMPTN

TKDU saya kerjakan dengan lancar, Matematika Dasar yang saya perkirakan hanya mampu menjawab 2-3 soal ternyata mampu menjawab 6 soal. TKD Soshum justru menjadi mimpi buruk bagi saya, Saya tidak baik dalam mengerjakan Sosiologi dan Sejarah yang kebanyakan orang mampu menjawab banyak, beruntung beberapa soal adalah jackpot, yang jawabannya sangat jelas sehingga saya masih bisa mengisi kedua pelajaran tersebut dan diiringi nembak jawaban tentunya ^_^
Sepulang ujian saya berencana memeriksa jawaban-jawaban saya untuk memperkirakan nilai yang saya terima, tapi baru memeriksa satu soal Sosiologi dan ternyata salah saya langsung stress, tanpa pikir panjang soal ujian pun saya bakar supaya tidak menghantui saya, memang berlebihan sih reaksi saya ^_^

#Pengumuman kelulusan SBMPTN
Hari pengumuman kelulusan SBMPTN 2015 bertepatan dengan acara buka bersama kelas 9D SMPN 3 Bogor angkatan 2010, ada kisah lucu disini, sepertinya saat pertama kali membuka hasil saya salah memasukan nomor atau hal lain, nomor yang tertera dinyatakan "gagal lulus SBMPTN," saya pun lemas dan berusaha untuk have fun pada acara buka bersama dengan teman-teman lama saya. kebetulan ada teman saya yang tahun 2014 sudah pindah jurusan, saya berkata padanya "Wah, saya malah gak lulus tes mau pindah jurusan" menanamkan penggalan lirik lagu Last Child sebagai pikiran positif "Setidaknya diriku pernah berjuang"
Sepulang acara buka bersama saya menginap di rumah kawan saya, maklum sudah tidak punya rumah di Bogor lagi, saya masih terbayang-bayang hasil "Tidak Lulus dalam kesempatan terakhir mengikuti SBMPTN" saya membuka lagi website pengumuman hasil SBMPTN, memastikan mengisi nomor dan tanggal lahir secara benar, dan ternyata saya dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjajaran. langsung saja tubuh yang tadinya lemas menjadi penuh energi, saya tidak menyangka akan mendapat  kesempatan untuk kuliah di jurusan yang saya rasa adalah 'jiwa' saya, saya dapat kesempatan melangkah jauh lebih baik dari kemarin, impian saya jadi cum laude dan mawapres terbuka lagi, meski disisi lain saya juga harus sadar akan kehilangan umur saya, teman-teman sejurusan di kampus lama saya, uang orang tua yang tidak sedikit, mengambil bangku adik angkatan 2015 yang mungkin usahanya lebih keras dari saya (Saya merencanakan ikut SBMPTN sebulan sebelum pelaksanaan ujian, belajar pun cuma sebulan sebelum SBMPTN) dan banyak hal lainnya.

Sejak hari itu, 09 Juli 2015 saya yang membenci pikiran mayoritas orang "Proses lebih penting dari hasil" pun berubah, dahulu saya berfikir seluruh proses akan percuma tanpa hasil yang baik, tapi pada hari itu saya merasa telah ditunjukan betapa nikmatnya suatu proses. Terbayang lirik lagu Cupumanik yang berjudul Maharencana.
Semua berawal dari yang kau rasakan
dari hanya kisah kecil yang kau alami
dia memberi makna

peristiwa tak bicara dengan kata terbuka
bukalah mata rasa yang kau punya
agar kau tau artinya
Semoga yang merasa terkena "Syndrom Jaster PTN Favorit" salah jurusan atau hanya asal masuk PTN bisa serius dalam menjalani kuliahnya, Saya yakin kalau rajin dalam belajar dari awal pasti kesananya enjoy di universitas dan jurusan tersebut. Minta doanya juga dari pembaca supaya saya menjadi mahasiswa saleh yang berprestasi akademik, organisasi, membahagiakan orang tua dan sukses di kampus baru saya ;)