Minggu, 08 Oktober 2017

Pergaulan: Bangkit Dari Krisis

   Tidak terasa sudah dua tahun saya pindah kuliah ke Unpad, teman-teman lama saya di UPI mulai menyelesaikan tugas akhir dan sepertinya banyak dari mereka yang akan lulus di akhir tahun ini, berhadapan dengan dunia nyata dan mengakhiri masa pendidikan terakhir dengan kawan sebaya, juga sesedikitnya seperlima teman sekelas saya di masa SMA telah menikah, membuka salah satu ladang pahala terbesar dalam hidup mereka.    
       Masa kuliah saya sekarang lebih menyenangkan ketimbang seluruh jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya, saya merasa senang setiap berada di kampus sekarang, saya senang meniti masa depan sekalipun kampus berdiri di kecamatan yang gersang dan panas. Saya bersyukur terbebas dari masalah akademik di kampus, masalah keluarga dan hanya ditimpa masalah-masalah kecil semisal beberapa dosen ngehe di kelas, malas mengerjakan tugas, harus latihan paduan suara ke kampus Dipati Ukur.
        Tidak ada masalah berarti setelah saya pindah kuliah sejauh ini, sangat kontras dengan masa-masa kuliah saya di kampus sebelumnya, ketika saya tidak bisa berdamai dengan dunia, pergi ke kampus adalah beban yang sangat berat waktu itu, karena dari rumah saya membawa masalah keluarga dengan saudara, nun jauh di Kota Bogor ibu saya mengalami penurunan mental yang signifikan.
     Manajemen pergaulan saya di tahun 2016 lalu menjadi begitu buruk dengan kurangnya upaya saya berperang dengan waktu, hobi dan finansial, demi hobi paduan suara saya rela mengorbankan waktu saya latihan di kampus Dipati Ukur, setelah motor saya terkena kerusakan, masalah waktu dan finansial menimpa saya, 4 jam waktu saya terkadang habis di perjalanan, pengeluaran bertambah karena uang yang saya keluarkan untuk transportasi naik hingga dua kali lipat dan tidak sempatnya saya memasak nasi. Ketika mendapat kabar gaji orang tua saya telat dibayar dan uang yang dikirim berkurang dan tidak menentu saya berpikir sebuah kiamat kecil akan menimpa saya, mundur dari tim konser, saya sangat bersyukur hal itu tidak terjadi dan saya tetap menjadi bagian penyanyi konser tiga bulan kemudian. Kiamat kecil yang nyaris menimpa saya itu mendorong saya bergabung dengan paduan suara fakultas, hobi harus tetap dipenuhi, tapi waktu harus selamat dan hal-hal terburuk harus tetap diantisipasi.
      Tahun 2017 ini manajemen pergaulan saya lebih baik, saya merasa lebih dekat dengan teman-teman saya baik di jurusan, UKM dan ekstra juga teman-teman lama saya di luar kampus, pada semester 4 lalu  saya tidak punya beban berarti di UKM, di paduan suara saya hanya penyanyi konser tanpa menjadi panitia, di DKM saya merasa kecewa, entah divisi minat bakat yang "duniawi" di DKM tidak begitu didukung seperti yang saya rasakan, atau karena proker kelas musik di DKM masih rintisan sehingga belum memberikan keluaran yang maksimal. Kedua hal itu sudah cukup membuat saya kembali banyak berinteraksi dengan teman-teman saya di kampus dan luar kampus.
      Menginjak semester 5, saya bertekad untuk menghasilkan uang tambahan sendiri dan memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan apa-apa di kampus, saya lupa titik balik apa yang membuat saya berpikir "daripada berlelah-lelah mengikuti organisasi apalagi politik kampus hanya untuk mencari relasi dan pengalaman, lebih baik mendapatkan dua hal itu langsung dari bekerja", sejauh ini saya puas dengan keikutsertaan saya dalam satu kepanitiaan saja di paduan suara, dan dapat dikatakan bahagia dengan pekerjaan kasar saya sebagai kurir, saya berharap semoga kedua hal tersebut tidak mengganggu hubungan baik saya dengan orang-orang.


Bersambung, sudah mengantuk

Minggu, 05 Februari 2017

Masalah Ideal-Materi Terberat

    Sebetulnya saya punya beberapa tulisan yang belum selesai, yaitu telaah terhadap salah satu naskah Sunda, perkembangan kuliah saya dan pemikiran saya tentang pentingnya desakralisasi peran orang tua pada anak pasangan bercerai, tapi semuanya buntu sejauh ini. Kebuntuan itu mengantarkan saya pada perenungan, betapa tidak normalnya kehidupan saya, keluarga inti yang terdiaspora, ayah nun jauh di pusat Kabupaten Bekasi yang penuh debu dan bising deru mesin pabrik dengan penghasilan tidak menggambarkan profesi arsitek, ibu yang bersembunyi di rumah tak layak huninya di kaki Tangkubanprahu karena kejatuhan mentalnya, adik di Majalengka yang terlalu banyak kehilangan porsi peran orang tua di usianya.
  Perpisahan pasangan yang sama-sama tidak memiliki harta berupa rumah adalah cara mengembalikan anak kepada Tuhan, saya hanya bisa diam ketika muncul pertanyaan mengapa saya tidak pulang ke rumah saat liburan. Keluarga lengkap yang tak lengkap dan tak berumah menjadikan sistem keluarga tidak berjalan dengan baik di hidup saya. "Apakah saya bertanggungjawab penuh secara spiritual pada keluarga saya selayaknya seorang anak pada keluarga yang lengkap?" dan "Apakah saya dilahirkan untuk menjadi milik saya sendiri pada usia peran orang tua masih dibutuhkan?" adalah pertanyaan yang selalu membayangi saya.
       Lima tahun sudah kehidupan aneh saya dimulai sejak kepindahan dari Bogor yang membuat saya mesti lebih menyayangi diri saya sendiri ketimbang anak-anak muda lain, anak-anak muda lain memiliki rumah ideal kehidupan keluarga yang normal atau memiliki rumah dalam arti papan jika ia hidup sebagai anak dari pasangan bercerai, sedangkan saya adalah orang yang mempertanggungjawabkan langsung hidup saya kepada Tuhan, sebagai seorang yang tidak memiliki rumah ideal dan rumah materi.
-Segera Dihapus-
       

Sabtu, 22 Oktober 2016

Menuju Keruntuhan Prinsip Asmara: Berlaluzone

"Gue sayang banget sama lu"
"Cuma lu laki-laki yang gue sayang"


    Kata-kata yang ditujukan pada saya beberapa tahun lalu - yang sampai sekarang masih terdengar begitu tulus, mulai membisik-bisik lagi di telinga saya belakangan, lebih tepatnya sekitar dua-tiga bulan belakangan, oh betapa saya mengkhawatirkan kenangan-kenangan itu akan mengubah pandangan saya yang anti asmara sebelum nikah sejak setahun setengah belakangan seperti pacaran, kakak-adik zone dan taaruf.

   Saya rasa pemicu kerinduan untuk mendengarkan kembali kata-kata itu tidak lain adalah perilaku posesif yang tanpa terasa sudah lebih dari 3 tahun tak saya salurkan. 3 tahun tanpa perilaku posesif, yang pada tahun pertama diisi dengan tolakzone yang monoton karena terus-menerus ditolak dan tertikung, dan di tahun kedua dan tahun ketiga berubah menjadi berlaluzone yang fasenya perkenalan-suka-menganggap asmara di sebelum menikah itu tidak penting-menjadi biasa saja seperti saat perkenalan.

   Berlaluzone sekilas adalah puncak bayangan menuju ke puncak prinsip anti asmara di luar nikah saya, kesuksesan saya untuk menahan diri pada tahap suka lalu mengubahnya menjadi biasa sehingga saya tidak jatuh cinta seperti sebelum-sebelumnya membuat saya merasa mampu memaksa hati untuk memandang realita di tahap ini, bahwa tidak mungkin waktu saya disalurkan untuk waktu-waktu non-pengembangan diri yang daintaranya termasuk asmara sebelum menikah.

  Berlaluzone menjadi zona nyaman saya, meski hampir gagal di wanita terakhir yang saya sukai, setengah mati saya menahan supaya tidak melakukan pengamatan dan pendekatan yang akan mengubah suka menjadi perasaan jatuh cinta, saya begitu menikmati perasaan yang tenang hari demi hari tanpa memikirkan asmara yang rumit, masa muda saya tidak akan kehilangan waktu dan kegemilangannya karena masalah asmara.


Titik Balik

   Berlaluzone sebagai zona nyaman saya akhirnya menuju keruntuhan setelah terpicu oleh salah satu teman baik saya yang mendapatkan pasangan yang menurut saya seorang wanita yang sempurna, kecantikannya hanya menjadi penghias dari sikap baiknya saja, mungkin semua laki-laki yang mengenalnya tidak peduli dengan kecantikan wanita tersebut setelah tahu sikap baiknya, wanita itu pengingkaran dari teman saya yang saya anggap "kurang dewasa".

     Saya yang "geram" lalu terjun mencoba mengamati keseharian pasangan teman saya yang saya nilai sebagai wanita sempurna itu hanya dari sikap baiknya, ternyata dari pengamatan itu saya hanya mendapatkan pendapat umum, bahwa asmara adalah sesuatu yang saling melengkapi, teman saya punya kelebihan yang berharga bagi wanita itu, wanita itu didapatkan oleh teman saya pun melalui proses, dan yang mengejutkan saya adalah keduanya saling bersandar, di luar prediksi saya bahwa sang wanita sempurna itu hanya menjadi sandaran teman saya saja. Saya melihat bersatunya mereka sebagai perpaduan yang lahir dari pengingkaran, bukan faktor beruntung teman saya semata,

   Dari sana saya merasa tidak perlu untuk menghindari hubungan/komitmen asmara sebelum menikah dan merasa berlaluzone hanya menjadi suatu bom waktu karena saya hanya menahan kodrat laki-laki saya yang pasti selalu bangkit, yaitu kebutuhan akan kasih sayang wanita (yang akan "diesakan" dengan menikah kelak).  


Minggu, 09 Oktober 2016

Menikah Lima Tahun Lagi?

      Usia saya baru saja menginjak 20 tanggal 9 Mei lalu, Takjub di usia 20 ini ketika mengingat saat-saat setelah lulus SMP dan menjelang masuk SMA, sewaktu masa remaja awal dulu, betapa mudahnya mengatakan target menikah saya pada usia 25. Saya memandang wajar tekad untuk menikah di usia 25 ketika sekolah dulu, apa yang saya pandang dan saya harapkan dari pernikahan saat itu adalah keluarga sebagai bagian pola pikir jalan hidup arus utama dimana kehidupan hanya wisuda-bekerja-berkeluarga-meninggal dunia.
       Namun kini, jangankan mempersiapkan pernikahan di usia ke 25 yang datang lima tahun lagi, 10 atau 20 tahun lagi masih membujang atau sudah berkeluarga saja saya tidak tahu dan tidak peduli. Pernyataan saya akan ketidakpedulian pada kapan akan melaksanakan pernikahan mungkin dipandang tidak wajar oleh banyak orang, atau bisa juga dipandang lawak, tetapi sungguh-sungguh saya tidak tahu keputusan saya untuk berkeluarga sudah sampai di mana, masih jauh atau sudah dekat. dahulu saya menganggap pernikahan adalah suatu pencapaian layaknya kelulusan atau medali, kini saya menganggapnya hanya sebagai suatu sunnah, bukan suatu kesalahan jika saya menunda atau tidak melaksanakannya, biarpun jelas akan ada pertanyaan mengapa tidak.
     Saya sudah mengatakan hal tersebut kepada ayah saya, tanggapan ayah saya begitu biasa ketika saya mengungkapkan kepadanya akan ketidakpedulian saya tentang kapan saya akan melaksanakan pernikahan. Saya rasa responnya yang biasa saja tidak dapat langsung diartikan sebagai suatu tanda-tanda memaklumi pernyataan saya atau tanda-tanda cuek hanya karena ia jua baru menikah di usia 40. Sejujurnya saya agak tidak enak hati ketika mengeluarkan pernyataan tersebut, meski di satu sisi saya lega, minimal saya hanya mendengar pertanyaan "kapan nikah?" hanya dari orang-orang yang saya anggap asing atau hanya sebagai gurauan di warung kopi/kantin bersama teman-teman saya.
       Saya harap ayah saya melihat tantangan hidup saya yang lebih besar darinya di masa muda, saya percaya masa remaja ayah saya lebih menyenangkan dengan kemampuan bergaulnya yang baik, punya ibu yang menurut cerita sangat care dan status anak perwira, siapa yang berani berbuat jahat pada tentara di era kediktatoran orde baru selain sang diktator sendiri?

      




Sabtu, 24 September 2016

Krisis Pergaulan

Jika anda seseorang yang bermindset "Yang bisa durhaka hanya anak saja" sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini saja.

     Kesulitan bergaul sejauh ini adalah tantangan hidup terbesar pertama buat saya, sepertinya mamah tidak menyadari anak sulungnya terlahir sebagai seorang introvert. konon seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan dalam kepribadian apa seperti seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai Arab, Sunda, China atau Yahudi. 

Betapa sia-sianya kehilangan waktu yang dapat saya gunakan untuk berinteraksi dengan teman sebaya hanya karena keoverprotektifan mama. Dilarang futsal oleh teman sekelas, dimindsetkan untuk tidak cocok main sore dengan "anak kampung" hanya karena status cucu tokoh masyarakat setempat sampai "dikomputerkan" sekaligus "diinternetkan" sejak usia 8-9 tahunan kini menghantui saya. Hasilnya saya bersyukur memiliki hitungan jari sahabat dengan jangka waktu persahabatan diatas lima tahun - hitungan jari bukan majas yang saya gunakan, tapi memang benar-benar hitungan jari jumlah sahabat saya.

Saya menjadi orang yang bertolakbelakang dengan ayah saya dalam urusan bergaul, betapa tak terhitungnya teman-teman ayah saya, mungkin ada yang telah bertahan selama lebih dari setengah abad seiring usia ayah saya yang kini 61. Rasanya naas kalau membandingkan dengan pergaulan saya yang lebih disibukkan dengan teman-teman temporal. 

Pernikahan setelah wisuda sepertinya akan menjadi opsi supaya saya tak disibukkan lagi dengan teman-teman temporal bila krisis pergaulan ini tak kunjung selesai, meskipun saya sudah terlanjur berkata tidak peduli lagi 10-15 tahun kedepan sudah menikah atau belum kepada ayah saya. Sampai jumpa istriku, semoga janji suci kita kepada Tuhan, keluarga yang kita bangun, anak yang kita didik dan kebutuhan One Night Stand mengikatmu sebagai teman hidupku sampai mati.