Senin, 30 Mei 2016

Keluarga-utuh Normatif

Keluarga-utuh normatif, pandangan bahwa kehidupan keluarga hasil perceraian tidak berbeda dengan kehidupan keluarga utuh. Keluarga-utuh normatif membuat seseorang menilai wujud timbal balik antara anak dan orang tua dalam keluarga bercerai harus sama seperti layaknya keluarga utuh. Contohnya ucapan-ucapan ini :
  1. "Parah banget lu gak nyempetin mudik, ibu lu kan disono" 
  2. "Gila lu tiga tahun gak ketemu babeh padahal tinggal sekota" 
  3. "Ayah lu ayah macem apa sih? kerjanya bagus kok lu tetep disuruh minta duit ke ibu?"
  4. Ceramah akan pentingnya berbakti kepada orang tua, seolah-olah semua anak broken home lupa ia lahir dari rahim ibunya dan berasal dari sel sperma ayahnya, ini yang paling menyebalkan dan paling parah.
Saya sendiri, sebagai anak broken home yang mengetahui keberadaan kedua orang tua, masih berhubungan baik dengan kedua keluarga besar masing-masing orang tua, bersikap biasa saja setiap menghadapi pelaku keluarga-utuh normatif ini, tetapi bagaimana dengan teman-teman broken home yang lain? mereka yang tidak tahu dimana rimba salah satu orang tuanya? mereka yang lahir dari pernikahan yang tidak sah secara negara? mereka yang tidak diizinkan bertemu dengan orang tua kandung oleh orang tua tirinya? mereka yang salah satu orang tuanya proletar sementara orang tua yang satunya lagi borjuis?.


Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Baca Atheis, Nanti jadi Atheis?

Pada kata pengantar cetakan 1990 dikatakan bahwa Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang tipikal bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup yang tradisional ke gaya hidup yang  modern, yang terasa sekali di bidang sosial, budaya dan politik. Pergeseran itu memberikan imbas antara lain gesekan antar paham dan pergolakan batin  
Roman Atheis, semua berawal dari pertemuan kembali dua sahabat lama yaitu Rusli dan Hasan, selain pola asuh yang berbanding terbalik pada masa kecilnya, keduanya berjumpa dalam perbedaan kepercayaan yang ruang lingkupnya bukanlah agama lagi, melainkan konsep teologis tentang ketuhanan, Hasan adalah seorang theis yang memeluk Islam sejak kecil dan Rusli adalah seorang Atheis, yang tidak percaya pada keberadaan Tuhan. Kedua penganut paham ini entah mengapa pada awalnya sama-sama menunjukan kefanatikan terhadap pahamnya masing-masing melalui perdebatan, kalau saya meminjam istilah seleb ask.fm favorit saya “orgasme”, pada Hasan yang theis ia melakukan “orgasme iman” dan pada Rusli “orgasme atheisme”. Bagi saya novel Atheis menggambarkan keantagonisan kaum Religi dan Irreligi.
“Apa artinya kepandaian manusia itu, bila dibandingkan dengan kepandaian Tuhan yang menciptanya." Dengan tak kusangka-sangka, Rusli tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja, sambil menggulung-gulung lagi sebatang rokok baru. Mukanya tetap tenang. Beberapa jurus kemudian, barulah ia berkata lagi, tapi seolah-olah tak acuh akan perkataan barusan itu. Ujarnya, "Dan saya yakin, bahwa pada suatu saat, entah sepuluh tahun lagi, entah seratus tahun lagi, entah seribu, dua ribu tahun lagi,  kepandaian  dan  pengetahuan  manusia  itu  akan sedemikian  majunya,  sehingga  ia  akan  sanggup menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.” (Atheis, 1990: 83-84)
Siapa sangka Hasan kemudian terpengaruh oleh Rusli menjadi seorang penganut atheis, menurut saya pilihan Hasan menjadi atheis ini ia lakukan dengan mudah, karena tampaknya sebelum berjumpa dengan Rusli ia tidak pernah melakukan perenungan terhadap kehidupan beragamanya. Efek psikologis dari masa kecilnya yang selalu ditakut-takuti tentang neraka dan ketenangan orang tuanya setelah beribadah, meskipun dipengaruhi Kartini juga :
“Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka. Itulah, maka aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang agama, dan kalau aku lengah sedikit saja, maka segeralah aku diperingatkan kepada hukuman dan siksaan dalam neraka. Makin besar, makin rajinlah aku melakukan perintah agama, dan dongeng-dongeng tentang neraka itu tidak luntur, melainkan malah makin menempel terus dalam hatiku” (Atheis, 1990: 26-27)
Pada novel ini tokoh utama Hasan dimatikan hidup dan pikirannya juga, bagaimana akhirnya ia kembali pada perasaan berdosa lagi, perenungannya kembali pada keberadaan Tuhan lagi dan merasa dekat dengan Tuhan lagi, kematiannya pun mengucapkan kata Allahu Akbar, meskipun saya tidak tahu apakah kata tersebut keluar hanya sebagai refleks saja atau memang Hasan telah kembali tunduk kepada Tuhan.
Novel Atheis entah mengapa hanya mempertemukan tokoh-tokoh berpaham “kiri” nan materialisme sebagai penganut paham Atheis, seolah-olah semua penganut paham “kiri” semuanya adalah atheis, apakah karena semangat pembebasan yang begitu tinggi dalam paham “kiri”  dan latar belakang Ahadiat K.Mihardja yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia? Jika melihat pada novel ada kisah tentang Hasan yang mandi di sungai Cikapundung pada dini hari dan Anwar yang menerobos makam yang dipercaya keramat, apakah ada keinginan penulis juga yang ingin membebaskan bangsa dari takhayul dan kehidupan religius yang terlalu berorientasi pada hari kemudian tapi lupa kepada masa sekarang.
Saya sendiri merasakan pengalaman batin dari membaca novel Atheis ini, saat pertama kali membacanya saat SMA  dengan polosnya saya semakin menganggap komunis sebagai paham dari orang-orang yang tidak bertuhan. Namun, setelah membaca novel Atheis untuk kedua kalinya alih-alih semakin tidak menyukai komunis, saya malah merasa perlu lebih maksimal lagi dalam menjalani kehidupan beragama, yakni Iman yang harus selalu tetap dalam keluhurannya dan Taqwa ritual-sosial yang lebih lagi. 
Pembaca zaman ini banyak yang telah mengetahui kalau dunia barat semakin didominasi penganut Irreligi dengan konsepnya yang bermacam-macam, dari mulai deis, atheis, agnostik, panteis, dll, jadi Kalau dikatakan novel Atheis menyebarkan paham Atheis dan membuat pembacanya dapat menjadi seorang atheis jelas terlalu berlebihan. Hahaha


Kamis, 31 Maret 2016

Oh Sastra Kontemporer

Ketika kuliah Telaah Naskah

"Gue masih ngarep prodi kita kebagian konsentrasi deh, semalem gue baru nyadar kalo gue gak demen sastra"
"Terus lu mau ngambil apa kalau ada konsentrasi? Linguistik?"
"Filologi"
"Lah lu lupa pengertian sastra? filologi kan sastra juga, lu gak suka sastra kontemporer tepatnya!"

Tadinya sih udah nulis keluhan ini-itu dari A-Z dengan bahasa Indonesia yang baku, tiba-tiba pas ngitung jumlah mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer cuma belasan dari tujuh puluhan mata kuliah yang harus dilahap sampe sarjana kelak, bibir tersungging, keluhan yang udah tertulis tak hapus dan otak langsung fresh, meski gak tau juga bobot mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer itu separah apa hehehe.


Wisuda 2019!

Andai dikasih rejeki sama Tuhan (kalau ada itu juga) ya wisuda 2018 sih

Sabtu, 26 Maret 2016

Heteroseksual

      Ya, saya memiliki orientasi seksual heteroseksual, yang membuat saya tertarik pada lawan jenis. Ekspresi gender saya pun maskulin, sejak kecil saya sudah merasa sama seperti laki-laki kebanyakan, merasa nyaman dilahirkan sebagai laki-laki. Karena memang sudah dasarnya menyukai lawan jenis, bila seseorang memaksa saya untuk mengubah orientasi seksual saya tentu saya akan berontak! Bila seseorang memaksa saya untuk mengubah ekspresi gender saya, meskipun saya menyukai beberapa kegiatan yang dianggap 'feminin' seperti menari dan main congklak juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di bidang yang dianggap feminin (Ahli Tata Boga, Tata Busana atau Tata Rias), saya akan berontak! gak mungkin dong saya yang maskulin nyaman kalau harus pake high heels setiap datang ke pesta pernikahan, pakai make up setiap pergi ngaji dan berbicara lemah gemulai setiap saat.


Mengapa muncul ejekan "homoseksual" pada seseorang yang terlalu lama menjomblo atau enggan dicomblangkan? Sementara para homoseksual sendiri banyak yang menjalin hubungan pacaran/taaruf/pernikahan dengan lawan jenis. 

Kamis, 10 Maret 2016

Menjadi Anggota Paduan Suara

   Sejujurnya hobi menyanyi adalah hobi baru saya, saya memang menyukai musik dan sempat mengikuti les gitar selama dua tahun sebelum stuck karena tiga kali gagal ujian kenaikan tingkat. Saat tahun 2012 saya menyanyi untuk mengganggu teman sekelas saya dengan suara fals (Serius!) dan tahun tersebut adalah tahun saya saya terkena "demam Dewa 19" hobi menyanyi kemudian mengantarkan saya pada pengalaman pahit dua tahun berturut-turut ditolak audisi penerimaan anggota baru Paduan Suara Mahasiswa (PSM) kampus lama saya.
     
   Kesempatan mengikuti kegiatan paduan suara akhirnya datang setelah saya pindah kampus, di PSM kampus baru saya sekarang tidak diadakan audisi dalam penerimaan anggota baru, audisi dilakukan untuk mengikuti kompetisi dan konser tahunan. Saya mendapatkan bagian suara bass I dan sempat nyaris ditunjuk sebagai tenor II saat ambitus, dua hal tersebut membuat saya semakin yakin saya adalah pria bersuara bariton, suara paling umum dimiliki pria di dunia. Sebelum ikut PSM saya sudah yakin saya adalah pria dengan jenis suara bariton setelah mencari referensi di Youtube,
   
   Sekarang PSM sedang menjalani latihan persiapan konser intern gabungan angkatan 2015 dan angkatan 2014 berjudul yang akan dilaksanakan pada 11 Mei 2016, efek latihan persiapan konser intern, muncul PSM yang ternyata sangat menyiksa sesungguhnya, seperti selalu harus konfirmasi bila akan telat atau tidak akan hadir latihan, sikap konduktor yang berubah lebih keras ketimbang saat latihan reguler belum lagi latihan yang dilaksanakan empat kali seminggu dan tiga kali diantaranya di kampus Bandung, setiap latihan berdurasi 4-5 jam, Sempat terpikir untuk keluar saja dari konser intern karena masalah latihan tiga kali seminggu di kampus Bandung yang menguras uang dan tenaga tersebut, tetapi saya selalu teringat apa yang ada dalam isi kepala saya saat pertama mengetahui penerimaan anggota baru di PSM Unpad tidak menggunakan mekanisme audisi. Sebelum diterima di Unpad saya berpikir kesempatan ikut PSM sudah lewat karena waktu itu saya belum terpikir untuk pindah kuliah.

"Saya sudah berpikir kesempatan menjadi anggota PSM sudah lewat, saya tidak menyangka kesempatan akan datang juga"
    Kalimat tersebut membuat saya mencoba naik motor menuju kampus Bandung dan ternyata naik motor selain lebih mengirit ongkos juga tidak semelelahkan naik kendaraan umum bagi saya, tidak membuat saya kelelahan seperti yang saya perkirakan. Akhirnya saya pun mencoba untuk terus berpartisipasi dalam konser intern, berharap acara ini sukses dan tentu berharap juga saya sukses mengikuti konser tersebut hehe.


(*)
Kepada siapapun yang menciptakan dan mempertahankan mekanisme tanpa audisi dalam penerimaan anggota baru PSM Unpad, Terima Kasih banyak!