Sabtu, 24 September 2016

Krisis Pergaulan

Jika anda seseorang yang bermindset "Yang bisa durhaka hanya anak saja" sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini saja.

     Kesulitan bergaul sejauh ini adalah tantangan hidup terbesar pertama buat saya, sepertinya mamah tidak menyadari anak sulungnya terlahir sebagai seorang introvert. konon seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan dalam kepribadian apa seperti seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai Arab, Sunda, China atau Yahudi. Kepribadian bukanlah pilihan seperti orientasi seksual, introvert bukan dosa besar yang meluluhlantakan suatu negeri seperti homoseksual, ekstrovert bukan apa yang diminta Tuhan seperti heteroseksual yang melanggengkan keberadaan manusia hingga kini. 

Betapa sia-sianya kehilangan waktu yang dapat saya gunakan untuk berinteraksi dengan teman sebaya hanya karena keoverprotektifan mama. Dilarang futsal oleh teman sekelas, dimindsetkan untuk tidak cocok main sore dengan "anak kampung" hanya karena status cucu tokoh masyarakat setempat sampai "dikomputerkan" sekaligus "diinternetkan" sejak usia 8-9 tahunan kini menghantui saya. Hasilnya saya bersyukur memiliki hitungan jari sahabat dengan jangka waktu persahabatan diatas lima tahun - hitungan jari bukan majas yang saya gunakan, tapi memang benar-benar hitungan jari jumlah sahabat saya.

Saya menjadi orang yang bertolakbelakang dengan ayah saya dalam urusan bergaul, betapa tak terhitungnya teman-teman ayah saya, mungkin ada yang telah bertahan selama lebih dari setengah abad seiring usia ayah saya yang kini 61. Rasanya naas kalau membandingkan dengan pergaulan saya yang lebih disibukkan dengan teman-teman temporal. 

Pernikahan setelah wisuda sepertinya akan menjadi opsi supaya saya tak disibukkan lagi dengan teman-teman temporal bila krisis pergaulan ini tak kunjung selesai, meskipun saya sudah terlanjur berkata tidak peduli lagi 10-15 tahun kedepan sudah menikah atau belum kepada ayah saya. Sampai jumpa istriku, semoga janji suci kita kepada Tuhan, keluarga yang kita bangun, anak yang kita didik dan kebutuhan One Night Stand mengikatmu sebagai teman hidupku sampai mati.

Selasa, 23 Agustus 2016

Bahasa Sunda, Bahasa Pertamaku

       Jujur saja, kutipan dibawah ini adalah jawaban saya setiap mendapatkan pertanyaan tentang (kuliah) Sastra Indonesia:
"Minat gue tuh sebenernya ke Bahasa Sunda, tapi Bahasa Sunda bukan bahasa utama gue, makanya gue pilih Sastra Indonesia"
      Dua tahun lalu saya memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Sunda, terutama variasi dialeknya. Saya sampai rela mengunjungi daerah-daerah dimana Bahasa Sunda "bersaing" dengan Bahasa Cirebon dan Bahasa Jawa seperti Kandanghaur, Lelea, dan Majenang untuk melihat perbedaan Bahasa Sunda di daerah-daerah yang saya kunjungi itu dengan Bahasa Sunda mainstream. Seluruh kunjungan itu saya lakukan sendirian, tanpa terpikir kelak akan menjadi mahasiswa jurusan sastra haha!
      Bahasa Sunda adalah bahasa pertama dan bekas bahasa utama saya, kedua orang tua saya mengajarkan Bahasa Sunda sebelum Bahasa Indonesia. Bahasa Sunda kemudian tidak lagi menjadi bahasa utama saya lagi, bahasa di rumah berubah menjadi Bahasa Indonesia sejak saya menguasai bahasa tersebut, mungkin sekitar 15 tahun sudah Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama saya, meski dalam pergaulan dengan teman sebaya masih berbahasa Sunda, penggunaannya pun turun drastis sejak menetap di Jatinangor yang memiliki dialek Melayu sendiri, saya lebih banyak berbicara nyunda ketika tinggal di Bogor yang dekat dengan tanah Betawi, bahkan beberapa desa di utaranya saja Betawi.
    

Bahasa Melayu dialek Jatinangor

Bahasa Melayu Jatinangor adalah dialek Bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah pendidikan Jatinangor. Penuturnya berasal dari kalangan mahasiswa. Berikut contoh kata-kata Bahasa Melayu Jatinangor:
1. Aing/Urang: Saya
2. Maneh: Kamu
3. Akang: Kakak (tingkat) Laki-laki
4. Teteh: Kakak (tingkat) Perempuan
Biasanya penutur bahasa Melayu Jatinangor mengalami kesulitan ketika melaksanakan ibadah Shalat Jum'at, karena beberapa Surau di Jatinangor menggunakan Bahasa Sunda dalam ceramah dan pupujian.

Minggu, 26 Juni 2016

Cerahnya Hidupku Tanpa Takhayul

Awan mendung sering berakhir dengan rintik air hujan yang turun, awan mendung kadang juga datang sebagai kecohan yang sejenak menyembunyikan langit cerah.
      

  • Prolog       

Tulisanku ini bukan cerita fiksi, sampai sekitar setahun lalu aku masih percaya bahwa aku adalah manusia yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu meramal dan melihat hantu sekaligus memberikan perintah pada mereka. Dalam salah satu kelompok bermainku bahkan aku dikenal sebagai salah satu peramal yang akurat dan ahli perhantuan mumpuni. Kini aku percaya bahwa aku dan semua orang adalah manusia biasa, aku bisa menyebut Nabi sebagai manusia luar biasa, tapi setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing, para Nabi memiliki keistimewaan sebagai manusia yang diutus Tuhan, mukjizat mereka yang diluar nalar biarlah menjadi peneguh imanku, jadi aku dapat kembali pada kesimpulan bahwa semua orang adalah manusia biasa.
 Konon, kemampuan istimewaku itu didapat dari garis keturunan, ibuku mendapatkan warisan ilmu itu dari kakeknya, dan aku adalah pewaris kemampuan ibuku. Ibuku memang seorang peramal juga, entah ia masih percaya atau tidak karena setidaknya sudah tiga tahun aku tidak berbicara dari lagi dengannya sejak harta melimpah yang datang secara tiba-tiba memisahkan hati kami hingga sekarang dalam masa kebangkrutannya. interaksi dengan ibuku sekarang hanya sebatas doa Rabbigfirli waliwalidaya yang kupanjatkan sehabis salat.

  • Ibu

Ibu adalah pembimbing kemampuan istimewaku, Ibuku menjelaskan soal dunia lain, mengapa rumahku di Bogor begitu mistis, hantu-hantu yang kulihat sekelebat maupun cukup lama, termasuk siapa macan putih yang paling sering menampakan diri, yang ia bilang sebagai pengikut keluargaku, siapa pocong di bawah pohon rambutan yang benar-benar terlihat begitu nyata saat SD, suatu penampakan paling lama yang kulihat. Ibu juga lebih dari sekali mengingatkan aku, perempuan pilihanku tidak akan berjodoh denganku jika ia tidak cocok dengan ‘makhluk’ yang ada dalam diriku.
Ibuku menceritakan juga padaku tentang ramalan-ramalannya dan yang terjadi, seperti kepergian kakekku dan jabatan tinggi yang akhirnya diraih oleh salah satu saudara. Ramalannya tentang diriku adalah tidak tamatnya aku di bangku SMA karena akan menjadi orang yang melanglangbuana sehingga ia memasukanku ke sekolah dasar di usia 5 tahun, nyatanya aku tidak tamat meneruskan kuliahku di jurusan Pendidikan Teknik Elektro (PTE), bukan SMA, itu juga bukan karena melanglangbuana, tapi karena depresi akibat masalah-masalah keluarga di awal perkuliahan, plus lalasutan dalam kuliah setelah masalah-masalah keluarga itu satu persatu beres. Tidak lupa jua ia bercerita tentang temannya dari India yang meramal aku akan menjadi seorang insinyur, nyatanya sekarang aku kuliah di jurusan Sastra. Insinyur bahasa daerah se-Pulau Jawa? #MikirKeras

  • Selamat Jalan Ramalan!


Aku mulai meramal sekitar 5 tahun lalu, waktu itu banyak sekali orang yang bertanya soal masa depan terutama jodohnya, sampai saat kenaikan kelas XII aku pindah ke Bandung dan klien-klienku pun menghilang, meski begitu salah satu klien, sekaligus sahabatku kerap mengirim pesan padaku, soal ramalan-ramalan yang kuucapkan ketika SMA dulu, yang banyak terjadi belakangan ini. Belum lama ini aku mengirim pesan padanya tentang ketidakpercayaanku pada hal-hal itu lagi.
Ramalanku itu tentang masa depannya ketika kuliah, kukatakan kekasihnya itu kelak akan menjadi perempuan bergaya hidup matre dan ia akan dekat dengan banyak perempuan, hubungan mereka renggang tapi selalu bersama yang dalam bahasa Sunda Awet rajet dan beberapa hal terjadi. Ia mempercayai hal-hal yang terjadi itu sebagai hasil ramalanku yang akurat, ia mengabaikan gagalnya ramalanku soal hubungan renggang yang ternyata putus (akibat orang ketiga pula) dan gagalnya kami kuliah di kota yang sama. Kekasihnya yang kini sudah berstatus mantan itu menjadi perempuan bergaya hidup matre sekarang sepertinya karena lingkungan pergaulannya plus kekasihnya sekarang yang kaya.
Oh iya, menjelang lulus SMA aku yang hanya memikirkan FMIPA ITB dan Ushuluddin UIN sebagai kampus tujuanku malah mendapatkan ‘penglihatan’ bahwa aku akan kuliah di Unpad, gerbangnya sampai terbayang. Kini aku memang kuliah di Unpad, itu semua adalah hasil nego dengan ayah soal kuliahku yang berantakan akademis dan non akademis di PTE dan hasil belajar sekitar tiga jam per hari tiga minggu sebelum SBMPTN tahun 2015 dilaksanakan.
Sebenarnya masih banyak ramalan-ramalanku, ibuku, temanku dan orang lain yang tidak terjadi sama sekali atau dapat dijawab dengan kenyataan sebetulnya, tetapi ramalan-ramalan diatas kurasa sudah banyak dipermalukan oleh kenyataan yang menjawabnya tanpa bisa dibantah. Selamat tinggal ramalan, selamat datang cita-cita, semoga terangnya kenyataan menjawab cita-citaku dengan indah.

Senin, 30 Mei 2016

Keluarga-utuh Normatif

Keluarga-utuh normatif, pandangan bahwa kehidupan keluarga hasil perceraian tidak berbeda dengan kehidupan keluarga utuh. Keluarga-utuh normatif membuat seseorang menilai wujud timbal balik antara anak dan orang tua dalam keluarga bercerai harus sama seperti layaknya keluarga utuh. Contohnya ucapan-ucapan ini :
  1. "Parah banget lu gak nyempetin mudik, ibu lu kan disono" 
  2. "Gila lu tiga tahun gak ketemu babeh padahal tinggal sekota" 
  3. "Ayah lu ayah macem apa sih? kerjanya bagus kok lu tetep disuruh minta duit ke ibu?"
  4. Ceramah akan pentingnya berbakti kepada orang tua, seolah-olah semua anak broken home lupa ia lahir dari rahim ibunya dan berasal dari sel sperma ayahnya, ini yang paling menyebalkan dan paling parah.
Saya sendiri, sebagai anak broken home yang mengetahui keberadaan kedua orang tua, masih berhubungan baik dengan kedua keluarga besar masing-masing orang tua, bersikap biasa saja setiap menghadapi pelaku keluarga-utuh normatif ini, tetapi bagaimana dengan teman-teman broken home yang lain? mereka yang tidak tahu dimana rimba salah satu orang tuanya? mereka yang lahir dari pernikahan yang tidak sah secara negara? mereka yang tidak diizinkan bertemu dengan orang tua kandung oleh orang tua tirinya? mereka yang salah satu orang tuanya proletar sementara orang tua yang satunya lagi borjuis?.