Kamis, 06 Agustus 2015

Aturan Kost

         Kadang masih gak terima dengan aturan mayoritas kost "Tamu dilarang menginap", "dilarang pulang lewat jam sekian" sementara rata-rata harga sewa kost lebih mahal dari harga sewa rumah bersama teman-teman dengan segala kebebasan dan sering kali tarif listriknya jauh lebih murah, meski mungkin salah saya sendiri yang gak minta izin pemilik kost buat ikut nginep di kostan sampe seminggu, sebenarnya saya lebih suka ditegur langsung kalau motor pemberian ayah saya itu makan tempat, salah tempat parkir atau bahkan seandainya gak seharusnya ada saya dan motor saya di kost milik bapak tersebut ketimbang mengusir saya secara halus yaitu dengan menyindir saya lewat berkata pada tukang loak bawa saja motor saya seandainya muat di karung dan gerobaknya.
        Bapak mungkin gak peduli alasan teman saya itu memberi 'tumpangan' ke saya dan juga situasi keluarga dan rasa malas saya untuk cepat-cepat menghuni kost baru saya di Sumedang yang menjadi alasan saya memilih 'numpang' di kostan milik bapak sejak kontrakan saya di Bandung habis atau pertemanan kami yang terjalin sejak SD sampai satu sekolah saat SMP-SMA dan sempat satu tempat kuliah, bahkan satu gedung fakultas. coba saya ambil hikmahnya, secara tidak langsung bapak sudah mengajarkan saya untuk kedepannya mengalahkan rasa malu saya untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal baik dalam situasi menyenangkan maupun tidak.
        Sayang tadi saya panik dan memilih langsung ke kamar kost baru saya dipinggiran Sumedang tanpa meminta maaf ke bapak apapun reaksi dari bapak yang akan saya terima. dan akhirnya saya sadar juga kalau tak ada tempat senyaman rumah atau di lingkungan keluarga, apalagi kalau keluarga kamu utuh.

Selasa, 14 Juli 2015

Mengikuti SBMPTN Setelah Dua Tahun Kuliah

Pembaca yang budiman, sebelumnya anda bisa membaca artikel yang saya tulis Desember tahun 2013 lalu disini ketidakbersyukuran yang mungkin kini saya sesali namun telah menjadi bagian hidup saya dan sepatutnya jadi motivasi saya untuk selalu berusaha menjadi individu yang lebih baik.

#Menyesal itu tak pernah di awal
Saya seorang lulusan SMA tahun 2013, tahun 2013 diterima SBMPTN dan kuliah di jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI, sebagai "Calon Insinyur" yang sekaligus didapuk sebagai "Calon Guru SMK" saat itu saya malah terlalu bahagia hanya karena diterima di PTN, dan sesudah euforia bisa diterima PTN itu saya menderita "Syndrom ITB-UIN Jakarta" dan saya tidak berjuang memerangi kemalasan saya dalam mendalami keilmuan Teknik Elektro tersebut, Ketika teman-teman saya membeli atau meminjam buku Elektronika dasar, Teknik Digital, Kalkulus Purcell atau Fisika Giancolli, Saya malah berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku Mahabrata, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran dan buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan keilmuan Teknik Elektro, saya juga tidak berusaha keras memperbaiki IP jelek saya yang seukuran pensil (IP paling tinggi saya 2,3) dan mungkin terancam drop out.

#Keputusan Besar
Pada penghujung bulan April/Mei 2015 selain dihantui Drop Out, saya juga merasa jenuh di jurusan Teknik Elektro, setelah empat semester perkuliahan saya mendadak saya menginginkan sesuatu yang indah dalam kuliah saya baik dari segi akademik maupun kehidupan sosial dan kehidupan saya di masa mendatang, saya shalat istikharah antara harus bertahan di UPI atau pindah ke kampus lain, permintaan untuk ikut SBMPTN tahun 2015 tepat pada hari ulang tahun saya ke 19 mungkin menjadi kado pahit yang saya berikan pada ayah saya. Tahun 2014 juga saya ingin mengikuti SBMPTN lagi, namun ditolak keras oleh beliau, namun tahun 2015 ini Alhamdulillah Ayah saya merestui rencana saya tersebut tanpa marah sama sekali, faktor niat yang berbeda sepertinya, 2014 itu "ITB Syndrom" sedangkan di tahun 2015 niatnya kuliah sesuai minat, lancar dan mencerahkan masa depan.

#Persiapan SBMPTN
Dalam persiapan saya menghadapi SBMPTN 2015, saya langsung mencari-cari lagi referensi kampus dan jurusan, berniat beralih bidang keilmuan dari Sains dan Teknologi ke Sosial Humaniora, memastikan kalau ketiga pilihan yang tersedia di kartu peserta SBMPTN adalah keilmuan yang saya MINATI. Saya kemudian memilih Universitas Padjajaran dan Universitas Jenderal Soedirman, Dua PTN yang nyaris sama sekali tak saya lirik ketika kelas 12 SMA dulu, karena menganggap kedua PTN tersebut adalah "PTN Kelas dua yang tidak setara dengan dua gajah dan kampus dimana Go-Jek dihadang ojek pangkalan" kini jadi harapan saya untuk dapat memperbaiki nasib, semacam kualat.

Bank soal SBMPTN 2013 saya gunakan lagi, saya meminjam buku latihan soal bimbel 2013 lalu kepada teman bimbel saya (Hatur nuhun pisan Agri Pasca Ramdhani, semoga dibalas pahala berlipat-lipat), karena buku latihan soal bimbel saya sudah hilang. Awalnya saya merasa kesulitan belajar ilmu sosial terutama Matematika Dasar dan Geografi, Alhamdulillah lama-kelamaan terbiasa, apalagi setelah mendapat kunci jawaban dan pembahasan latihan soal SBMPTN yang banyak tersebar di Internet. bahkan saya sangat menyukai belajar Ekonomi waktu itu, Pelajaran yang menjadi alasan saya untuk tidak masuk IPS saat SMA, Namun di pelajaran Geografi saya masih kesulitan, akhirnya H-3 SBMPTN saya memutuskan untuk menyewa guru privat meski dalam sekali pertemuan, sesi privat yang hanya dua jam tersebut tidak banyak membahas soal, tapi sangat membantu saya mendapat gambaran materi Geografi secara sistematis. 


#Hari Ujian SBMPTN

TKDU saya kerjakan dengan lancar, Matematika Dasar yang saya perkirakan hanya mampu menjawab 2-3 soal ternyata mampu menjawab 6 soal. TKD Soshum justru menjadi mimpi buruk bagi saya, Saya tidak baik dalam mengerjakan Sosiologi dan Sejarah yang kebanyakan orang mampu menjawab banyak, beruntung beberapa soal adalah jackpot, yang jawabannya sangat jelas sehingga saya masih bisa mengisi kedua pelajaran tersebut dan diiringi nembak jawaban tentunya ^_^
Sepulang ujian saya berencana memeriksa jawaban-jawaban saya untuk memperkirakan nilai yang saya terima, tapi baru memeriksa satu soal Sosiologi dan ternyata salah saya langsung stress, tanpa pikir panjang soal ujian pun saya bakar supaya tidak menghantui saya, memang berlebihan sih reaksi saya ^_^

#Pengumuman kelulusan SBMPTN
Hari pengumuman kelulusan SBMPTN 2015 bertepatan dengan acara buka bersama kelas 9D SMPN 3 Bogor angkatan 2010, ada kisah lucu disini, sepertinya saat pertama kali membuka hasil saya salah memasukan nomor atau hal lain, nomor yang tertera dinyatakan "gagal lulus SBMPTN," saya pun lemas dan berusaha untuk have fun pada acara buka bersama dengan teman-teman lama saya. kebetulan ada teman saya yang tahun 2014 sudah pindah jurusan, saya berkata padanya "Wah, saya malah gak lulus tes mau pindah jurusan" menanamkan penggalan lirik lagu Last Child sebagai pikiran positif "Setidaknya diriku pernah berjuang"
Sepulang acara buka bersama saya menginap di rumah kawan saya, maklum sudah tidak punya rumah di Bogor lagi, saya masih terbayang-bayang hasil "Tidak Lulus dalam kesempatan terakhir mengikuti SBMPTN" saya membuka lagi website pengumuman hasil SBMPTN, memastikan mengisi nomor dan tanggal lahir secara benar, dan ternyata saya dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjajaran. langsung saja tubuh yang tadinya lemas menjadi penuh energi, saya tidak menyangka akan mendapat  kesempatan untuk kuliah di jurusan yang saya rasa adalah 'jiwa' saya, saya dapat kesempatan melangkah jauh lebih baik dari kemarin, impian saya jadi cum laude dan mawapres terbuka lagi, meski disisi lain saya juga harus sadar akan kehilangan umur saya, teman-teman sejurusan di kampus lama saya, uang orang tua yang tidak sedikit, mengambil bangku adik angkatan 2015 yang mungkin usahanya lebih keras dari saya (Saya merencanakan ikut SBMPTN sebulan sebelum pelaksanaan ujian, belajar pun cuma sebulan sebelum SBMPTN) dan banyak hal lainnya.

Sejak hari itu, 09 Juli 2015 saya yang membenci pikiran mayoritas orang "Proses lebih penting dari hasil" pun berubah, dahulu saya berfikir seluruh proses akan percuma tanpa hasil yang baik, tapi pada hari itu saya merasa telah ditunjukan betapa nikmatnya suatu proses. Terbayang lirik lagu Cupumanik yang berjudul Maharencana.
Semua berawal dari yang kau rasakan
dari hanya kisah kecil yang kau alami
dia memberi makna

peristiwa tak bicara dengan kata terbuka
bukalah mata rasa yang kau punya
agar kau tau artinya
Semoga yang merasa terkena "Syndrom Jaster PTN Favorit" salah jurusan atau hanya asal masuk PTN bisa serius dalam menjalani kuliahnya, Saya yakin kalau rajin dalam belajar dari awal pasti kesananya enjoy di universitas dan jurusan tersebut. Minta doanya juga dari pembaca supaya saya menjadi mahasiswa saleh yang berprestasi akademik, organisasi, membahagiakan orang tua dan sukses di kampus baru saya ;)

Senin, 25 Mei 2015

Peterpan - Kota Mati

Warna seperti menghilang di kota inihitam dan putih masa laluTelah membisu
Chorus:Semua berakhir di siniTempatku mulai bermimpiMasih menari di siniLangkahmu yang telah pergi
Udara ini berubah di kota matiSeperti kisah masa laluKini membisu
Coba dengarku berbisikSuara yang telah mengeringHati ku mati di siniTerdiam dan tak mengerti 
Semua berkahir di siniTempatku mulai bermimpiMasih menari di siniLangkahmu yang telah pergi
masih bertahan sisamimpi-mimpi ku di kota matikini bertahan sisamimpi-mimpi ku di kota ini
Semua berkahir di siniTempatku mulai bermimpiHatiku mati di siniTerdiam dan tak mengerti
Sumber : kapanlagi.com
Kota Mati jadi lagu favorit saya beberapa bulan ini, mungkin karena sedang berjuang merubah nasib. 

Kamis, 16 Januari 2014

Ulah Saya di Masa Kecil

Hari ini saya tidak bisa tertidur sehingga awalnya saya putuskan untuk bernostalgia ke youtube mencari video klip Band zaman dahulu seperti Gigi dll. namun tiba-tiba saya iseng memasukan nama saya sebagai keyword google dan ketemulah tulisan-tulisan saya di masa kecil yang saya post di www.kabarindonesia.com, sejak bulan Mei tahun 2007 atau hampir tujuh tahun yang lalu, berikut saya awali dengan puisi-puisi saya ;

Kata Hati Sang Pengemis Malang I
Terik Matahari Yang memanggang
Tak kuhiraukan
Ku hanya duduk termenung
Menunggu Belas Kasihan Orang Lain

Demi Anak dan Istriku
Demi Sesuap Nasi
Semuanya Ini
Hanya Demi Menyambung Hidup

Sedikit Demi Sedikit
Recehan Demi Recehan
Yang Kukumpulkan
Namun Tetap Tak bisa
Mensejahterakan Keluargaku 

Oh Tuhan.....Mengapa?
kau Berikan Cobaan Yang Berat Sekali
Mungkin karena Nasibku Yang Buruk
Yang S'lalu Buruk
Dan Yang Tak Pernah Beruntung

Kata Hati Sang Pengemis Malang II
Aku S'lalu Merasa Bahwa
Akulah Orang Termalang Di Dunia Ini
Namun Bila Memang Takdirku
Mengapa Tak Bisa Kupungkiri?

Ingin Rasanya
Mengakhiri Hidup Yang Hampa ini
Namun Ku Tak Bisa karena
Hidup Yang Segan  
Tetapi Matipun Enggan

Namun.....
Ku Tak Bisa T'rus bersedih
Ku Takkan Pernah Putus asa
ku Harus S'lalu maju karena
Tantangan Hidup
S'lalu Ada Di depan

Bogor,Pukul 19.45 WIB,Tanggal 29 mei 2007       


Pahlawan Bangsa

Wahai sang pahlawan bangsa
Jasa-jasamu tak terhitung
Kau korbankan semuanya
Demi masa depan yang cerah

Kau telah berjuang
Tak kau harapkan
Imbalan.......
Atas jasa-jasamu


Tak terbayangkan sekali
Bila tak ada engkau di sini
Namun sangat disayangkan
Engkau T'lah tiada di dunia ini....

kan kuhargai jasa-jasamu
hingga.....
malaikat maut
menjemput...........kami...

Bogor,23 Mei 2007 


Dan mungkin post terakhir saya di website tersebut adalah artikel tentang kondisi bahasa sunda pada tanggal 11 Oktober 2008 ;

Kondisi Bahasa Sunda
 
"Gue ini cool kan" kalimat seperti itu biasa diucapkan oleh pemuda zaman sekarang di Jawa Barat.

Mereka terlihat gengsi dan jijik terhadap bahasa daerah sendiri yaitu bahasa Sunda. Mereka lebih suka mengatakan sho what?? daripada kunaon.

Padahal kebudayaan sendiri harus kita jaga,mereka lebih suka menggunakan bahasa "campursari" antara gaul, Indonesia dan Inggris.

Aneh mungkin bahasa Inggris yang jauhnya ribuan kilo mereka sangat senang mengucapkan, masih bagus bila diucapkan tidak "campursari"

Jika tanah Sunda yang diinjak mereka, bahasanya malah mereka benci dianggap ketinggalan zaman.

Saya mengajak semua warga Sunda khususnya di Jawa Barat untuk menggalakan penggunaan bahasa sunda khususnya dengan orang Sunda agar bahasa ini tidak punah.


 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sungguh pagi hari ini saya tertawa dengan tulisan-tulisan saya di usia sebelas dan dua belas tahun dahulu, semoga di masa depan saya bisa menjadi penulis handal bahkan bisa merubah dunia ke arah lebih baik dengan tulisan saya.

Selasa, 17 Desember 2013

Nelangsa

    Sudah tiga bulan perkuliahan berjalan, sudah lima bulan saya berstatus mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), sebuah PTN yang bagus, tapi tidak terlalu bagus dan jauh dari kata jelek mengingat tempat saya kuliah sekarang ini adalah Pusat Universitas Keguruan se-Indonesia. Saya pun tidak perlu kost mengingat jarak rumah kakek saya-kampus hanya 3 Km, Saya kerap berangkat lima belas menit perkuliahan dimulai. Kampus ini juga adalah kampus tiga generasi, Nenek, Paman dan sekarang saya kuliah disini, bahkan dua paman saya adalah alumni jurusan Elektro juga. Saya pun puas dengan akreditasi jurusan yang sudah mendapat predikat 'A'
    Namun hingga sekarang saya tetap tidak bisa mensyukuri kampus yang telah berbaik hati menerima saya ini, Kampus ini memang pilihan kedua saya di SBMPTN 2013 lalu dibawah pilihan kesatu saya FMIPA ITB dimana disana bernaung jurusan yang saya impikan sejak SD, Astronomi. Disisi lain saya pun mengikuti SPMB-PTAIN untuk lulus sebagai mahasiswa UIN dimana ketika SMA saya memang sangat ingin merasakan bangku kuliah ilmu agama, juga menunjang mimpi saya kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Ketika SMA pun saya sendiri merasa bosan belajar ilmu yang berbasis pada ilmu alam dan ilmu sosial, ditambah saya yang memang sejak SD selalu menjadi anak nakal membuat saya termotivasi untuk kuliah ilmu agama. Saya sempat dengan tegas bicara ke ibu saya yang memotivasi saya untuk masuk ITB "Mah, Tito udah gak minat ke ITB, Tito pengen ke UIN, UIN mana aja gak apa-apa" begitu juga ketika ditanya guru Bimbingan Ilmu Pendidikan di bimbel NF saya selalu menjawab "UIN bu" saya bahkan mengikuti Bimbel pada bidang IPC mengingat SPMB-PTAIN tulis untuk jurusan keagamaan saya harus menjajal test bidang studi IPS.
   Kebetulan saya akhirnya diterima di Pendidikan Teknik Elektro UPI pada SBMPTN dan diterima pada jurusan Aqidah Filsafat UIN Jakarta pada SPMB-PTAIN 2013. entah angin apa yang akhirnya membuat saya memilih UPI pada saat itu, lingkungan di sekitar saya memang mendukung saya untuk memilih UPI pada saat itu, ataukah karena saya terlalu takut dengan komentar-komentar miring bila saya kuliah di UIN Jakarta. Saya sadar saat memilih, saya sudah berusaha untuk melupakan dua kampus yang saya impikan, dimana menjadi mahasiswa jurusan astronomi ITB adalah impian saya sejak SD, dimana saya menaruh harapan dengan saya menjadi mahasiswa UIN Jakarta saya akan menjadi Insan yang religius, Jauh dari cap "Nakal" yang tujuh belas tahun hidup saya selalu melekat. Walaupun saya tetap meratapi, terutama untuk UIN Jakarta, hingga sekarang.
  Dahulu Saya sama sekali tidak tertarik untuk kuliah di tempat kuliah saya sekarang, dahulu saya sama sekali tidak memandang kampus saya sekarang walau setiap hari saya melewatinya, walau teman-teman di sekolah sangat memimpikan untuk kuliah di PTN, bahkan ketika saya menjadi (mungkin) satu-satunya murid di sekolah yang lolos jalur SBMPTN (d/h SNMPTN tertulis) ke kampus saya sekarang, saya tetap sangat meratapi apa yang saya anggap pilihan salah ini, nilai saya pun terancam nasakom alias nasib satu koma.
  Saya tidak tahu apakah tahun depan saya masih akan tetap kuliah disini atau tidak, tapi saya rasa saya harus berusaha bangkit dan berubah dahulu pada semester kedua, karena ketika memilih untuk kuliah di tempat saya sekarang saya selalu memindset kata yang entah saya dengar dari mana "Bukan Almamater yang membesarkan nama kita, melainkan kita yang harus membesarkan nama Almamater"