Kamis, 31 Maret 2016

Oh Sastra Kontemporer

Ketika kuliah Telaah Naskah

"Gue masih ngarep prodi kita kebagian konsentrasi deh, semalem gue baru nyadar kalo gue gak demen sastra"
"Terus lu mau ngambil apa kalau ada konsentrasi? Linguistik?"
"Filologi"
"Lah lu lupa pengertian sastra? filologi kan sastra juga, lu gak suka sastra kontemporer tepatnya!"

Tadinya sih udah nulis keluhan ini-itu dari A-Z dengan bahasa Indonesia yang baku, tiba-tiba pas ngitung jumlah mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer cuma belasan dari tujuh puluhan mata kuliah yang harus dilahap sampe sarjana kelak, bibir tersungging, keluhan yang udah tertulis tak hapus dan otak langsung fresh, meski gak tau juga bobot mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer itu separah apa hehehe.


Wisuda 2019!

Andai dikasih rejeki sama Tuhan (kalau ada itu juga) ya wisuda 2018 sih

Sabtu, 26 Maret 2016

Heteroseksual

      Ya, saya memiliki orientasi seksual heteroseksual, yang membuat saya tertarik pada lawan jenis. Ekspresi gender saya pun maskulin, sejak kecil saya sudah merasa sama seperti laki-laki kebanyakan, merasa nyaman dilahirkan sebagai laki-laki. Karena memang sudah dasarnya menyukai lawan jenis, bila seseorang memaksa saya untuk mengubah orientasi seksual saya tentu saya akan berontak! Bila seseorang memaksa saya untuk mengubah ekspresi gender saya, meskipun saya menyukai beberapa kegiatan yang dianggap 'feminin' seperti menari dan main congklak juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di bidang yang dianggap feminin (Ahli Tata Boga, Tata Busana atau Tata Rias), saya akan berontak! gak mungkin dong saya yang maskulin nyaman kalau harus pake high heels setiap datang ke pesta pernikahan, pakai make up setiap pergi ngaji dan berbicara lemah gemulai setiap saat.


Mengapa muncul ejekan "homoseksual" pada seseorang yang terlalu lama menjomblo atau enggan dicomblangkan? Sementara para homoseksual sendiri banyak yang menjalin hubungan pacaran/taaruf/pernikahan dengan lawan jenis. 

Kamis, 10 Maret 2016

Menjadi Anggota Paduan Suara

   Sejujurnya hobi menyanyi adalah hobi baru saya, saya memang menyukai musik dan sempat mengikuti les gitar selama dua tahun sebelum stuck karena tiga kali gagal ujian kenaikan tingkat. Saat tahun 2012 saya menyanyi untuk mengganggu teman sekelas saya dengan suara fals (Serius!) dan tahun tersebut adalah tahun saya saya terkena "demam Dewa 19" hobi menyanyi kemudian mengantarkan saya pada pengalaman pahit dua tahun berturut-turut ditolak audisi penerimaan anggota baru Paduan Suara Mahasiswa (PSM) kampus lama saya.
     
   Kesempatan mengikuti kegiatan paduan suara akhirnya datang setelah saya pindah kampus, di PSM kampus baru saya sekarang tidak diadakan audisi dalam penerimaan anggota baru, audisi dilakukan untuk mengikuti kompetisi dan konser tahunan. Saya mendapatkan bagian suara bass I dan sempat nyaris ditunjuk sebagai tenor II saat ambitus, dua hal tersebut membuat saya semakin yakin saya adalah pria bersuara bariton, suara paling umum dimiliki pria di dunia. Sebelum ikut PSM saya sudah yakin saya adalah pria dengan jenis suara bariton setelah mencari referensi di Youtube,
   
   Sekarang PSM sedang menjalani latihan persiapan konser intern gabungan angkatan 2015 dan angkatan 2014 berjudul yang akan dilaksanakan pada 11 Mei 2016, efek latihan persiapan konser intern, muncul PSM yang ternyata sangat menyiksa sesungguhnya, seperti selalu harus konfirmasi bila akan telat atau tidak akan hadir latihan, sikap konduktor yang berubah lebih keras ketimbang saat latihan reguler belum lagi latihan yang dilaksanakan empat kali seminggu dan tiga kali diantaranya di kampus Bandung, setiap latihan berdurasi 4-5 jam, Sempat terpikir untuk keluar saja dari konser intern karena masalah latihan tiga kali seminggu di kampus Bandung yang menguras uang dan tenaga tersebut, tetapi saya selalu teringat apa yang ada dalam isi kepala saya saat pertama mengetahui penerimaan anggota baru di PSM Unpad tidak menggunakan mekanisme audisi. Sebelum diterima di Unpad saya berpikir kesempatan ikut PSM sudah lewat karena waktu itu saya belum terpikir untuk pindah kuliah.

"Saya sudah berpikir kesempatan menjadi anggota PSM sudah lewat, saya tidak menyangka kesempatan akan datang juga"
    Kalimat tersebut membuat saya mencoba naik motor menuju kampus Bandung dan ternyata naik motor selain lebih mengirit ongkos juga tidak semelelahkan naik kendaraan umum bagi saya, tidak membuat saya kelelahan seperti yang saya perkirakan. Akhirnya saya pun mencoba untuk terus berpartisipasi dalam konser intern, berharap acara ini sukses dan tentu berharap juga saya sukses mengikuti konser tersebut hehe.


(*)
Kepada siapapun yang menciptakan dan mempertahankan mekanisme tanpa audisi dalam penerimaan anggota baru PSM Unpad, Terima Kasih banyak!

Jumat, 05 Februari 2016

Sumedang (Curhat)

    Saya tidak berada di daerah pusat kabupaten Sumedang, saya berada di perbatasan Sumedang-Bandung, tepatnya Jatinangor, saya di Jatinangor untuk kuliah di Universitas Padjadjaran yang identik dengan 'Bandung'. koran Bandung lebih mudah didapat ketimbang koran Sumedang disini. Banyak orang yang tidak menyangka juga daerah Jatinangor termasuk dalam wilayah kabupaten Sumedang.
       Belum ada perubahan drastis di kehidupan sehari-hari setelah keluar dari Bandung. masih belum bisa ngatur pola tidur dan pola makan, belum coba menghasilkan uang sendiri, masih mudah tersiksa berlama-lama dalam kumpulan orang biarpun saling kenal, masih belum yakin sifat introvert yang Napeul pada saya sekarang itu adalah pemberian lahir seperti sumber-sumber di internet, masih merasa tujuh tahun hidup tanpa diajarkan sosialisasi adalah penyebab saya akhirnya menjadi seorang introvert. orang yang menggunakan banyak waktu sendiri untuk memenuhi kepuasan pribadinya.
       Persenan perubahan gaya belajar ke arah yang lebih baik juga masih kecil, baru sekitar dua puluh sampai tiga puluh persen. Kuliah Sastra, minat kepada bahasa dan hobi membaca karya Sastra adalah hal-hal yang berbeda. membaca puisi dan cerpen membuat saya merasa puas setelah menamatkannya. tentang minat saya kepada bahasa, cukup stalking akun orang Sunda Banten dan orang Sunda Cilacap dan menemukan perbedaan kedua dialek Sunda itu pada bahasa Sunda yang gunakan sehari-hari sudah membuat saya puas, umpan balik dari kedua kegiatan itu selain kepuasan pun sejauh ini belum saya temukan lagi. menjadi mahasiswa Sastra membuat saya harus keluar dari "Zona Puas" itu. meski sejauh ini saya puas bisa kuliah di bidang Sastra, setiap mata kuliah saya jalani dengan antusias (Abaikan mata kuliah yang dosennya saya tidak suka!), tugas-tugasnya tidak membuat saya tertekan meski dalam situasi deadline dan ada kepuasan tersendiri saja ketika menjalani kuliahnya, fikiran dipacu untuk kreatif meskipun mungkin setiap perguruan tinggi tetaplah pabrik buruh di Indonesia.
    Membaca menjadi hobi baru saya, frekuensi main PES setiap harinya berkurang, terakhir saya membaca buku filsafat sejarah yang ditulis Hegel dan baru sampai halaman seratusan. saya harap dengan membaca buku tersebut akan menjadi pintu bagi saya untuk memahami Kierkeegaard, Sartre yang pikirannya belum dapat saya jangkau. juga kedepannya untuk memahami Komunis baik itu Marxisme, Leninisme dan Maoisme, agar ketidaksetujuan saya terhadap Komunisme tidak menjadi kebencian buta belaka hanya karena kejamnya pemerintahan Korea Utara dan buku hariannya Soe Hok Gie.
Bersama kedua teman sejurusan saya, Naufan Ghifari dan Zulfah Nazala, tempat di Cikuda, Jatinangor, Sumedang.
      Orang lain mungkin bingung mengapa saya betah di kamar kostan ketika libur kuliah dua bulan lamanya, tapi jujur saya malas sekali untuk pulang ke rumah "de jure" saya di Bandung. Ayah saya tidak memiliki rumah pribadi, saya tinggal di rumah almarhum kakek, di rumah tersebut saya tinggal bersama saudara saya di rumah tersebut dan tidak dekat setelah serangkaian konflik, saya pulang karena saya sangat cinta ayah dan adik saya saja yang datang ke rumah tersebut setiap akhir pekan, komunikasi dengan ibu memburuk, hampir setahun saya tidak ingin menemuinya. berat untuk merasakan rumah kakek saya tersebut adalah rumah saya, ibarat memaksa saya sebagai homophobia yang berorientasi seksual heteroseksual menjadi homoseksual, yang ada makin kuat perlawanan saya, bahkan mungkin saya lebih memilih mati, saking gak sudinya.
      Kedua orang tua saya berpisah enam tahun yang lalu, sering terlintas pertanyaan dalam diri saya "Mengapa ayah saya tidak punya rumah, padahal dia menikah di usia yang cukup tua, apa yang dilakukannya di masa muda?" dan "Mengapa ibu saya menggunakan hasil penjualan rumah orang tuanya untuk berfoya-foya dan mengasingkan diri ke perkampungan kumuh? tidak ingatkah ia akan kedua anaknya yang masih muda?".
      Ibu saya lahir dari keluarga kelas atas, hidup dengan ayah saya dengan kehidupan kelas menengah saja sudah membuat dia frustasi sampai menceraikan ayah saya, mengapa kini ia memilih kehidupan kelas bawah juga tanpa pekerjaan? apakah jiwanya sudah terlalu sakit? sudah tidak inginkah (-dan mungkin tidak diinginan keluarga besarnya untuk) hidup lebih lama? sebenarnya saya lelah akan tingkah ibu saya, meskipun saya juga sungguh tidak terima kalau ibu saya terus jadi badut di keluarga besar, bahkan ada pasutri yang rumah tangganya amburadul juga tidak lewat untuk menjadikan ibu saya badut. untung saudara jauh, yang mulai generasi anak saya kelak nanti tidak akan mengenal mereka.
   

Kehidupan Beragamaku

   Sebagai orang yang menganggap semua Khulafaur Rasyidin sama mulianya dan tidak mengutamakan Ali, kehidupan beragama saya pernah diliputi keraguan, terlalu banyak perntanyaan atau cerita dari penganut irreligi yang menguatkan bahwa agama itu hanya sebatas ideologi kuno dan kisah fiksi, terlalu banyak juga perbuatan segelintir ormas bahkan partai agama yang menunjukan jahatnya agama, dan yang paling buruk terlalu banyak kajian yang sifatnya hanya siraman rohani, bukan isian rohani, akhirnya tak terpenuhi lah kebutuhan rohani, namun biarlah kehidupan beragama saya bertahan hanya karena kata-kata yang malah membingungkan kalau dicari bagaimana praktisnya, Iman dan Ihsan. Sejauh ini 10 kepribadian muslimnya Hasan Al-Banna adalah sesuatu yang mengagumkan, meskipun saya tidak setuju dengan gerakan Ihwannul Muslimin. Mencari ilmu agama adalah salah satu agenda saya selama berada di Sumedang.