Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Baca Atheis, Nanti jadi Atheis?

Pada kata pengantar cetakan 1990 dikatakan bahwa Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang tipikal bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup yang tradisional ke gaya hidup yang  modern, yang terasa sekali di bidang sosial, budaya dan politik. Pergeseran itu memberikan imbas antara lain gesekan antar paham dan pergolakan batin  
Roman Atheis, semua berawal dari pertemuan kembali dua sahabat lama yaitu Rusli dan Hasan, selain pola asuh yang berbanding terbalik pada masa kecilnya, keduanya berjumpa dalam perbedaan kepercayaan yang ruang lingkupnya bukanlah agama lagi, melainkan konsep teologis tentang ketuhanan, Hasan adalah seorang theis yang memeluk Islam sejak kecil dan Rusli adalah seorang Atheis, yang tidak percaya pada keberadaan Tuhan. Kedua penganut paham ini entah mengapa pada awalnya sama-sama menunjukan kefanatikan terhadap pahamnya masing-masing melalui perdebatan, kalau saya meminjam istilah seleb ask.fm favorit saya “orgasme”, pada Hasan yang theis ia melakukan “orgasme iman” dan pada Rusli “orgasme atheisme”. Bagi saya novel Atheis menggambarkan keantagonisan kaum Religi dan Irreligi.
“Apa artinya kepandaian manusia itu, bila dibandingkan dengan kepandaian Tuhan yang menciptanya." Dengan tak kusangka-sangka, Rusli tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja, sambil menggulung-gulung lagi sebatang rokok baru. Mukanya tetap tenang. Beberapa jurus kemudian, barulah ia berkata lagi, tapi seolah-olah tak acuh akan perkataan barusan itu. Ujarnya, "Dan saya yakin, bahwa pada suatu saat, entah sepuluh tahun lagi, entah seratus tahun lagi, entah seribu, dua ribu tahun lagi,  kepandaian  dan  pengetahuan  manusia  itu  akan sedemikian  majunya,  sehingga  ia  akan  sanggup menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.” (Atheis, 1990: 83-84)
Siapa sangka Hasan kemudian terpengaruh oleh Rusli menjadi seorang penganut atheis, menurut saya pilihan Hasan menjadi atheis ini ia lakukan dengan mudah, karena tampaknya sebelum berjumpa dengan Rusli ia tidak pernah melakukan perenungan terhadap kehidupan beragamanya. Efek psikologis dari masa kecilnya yang selalu ditakut-takuti tentang neraka dan ketenangan orang tuanya setelah beribadah, meskipun dipengaruhi Kartini juga :
“Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka. Itulah, maka aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang agama, dan kalau aku lengah sedikit saja, maka segeralah aku diperingatkan kepada hukuman dan siksaan dalam neraka. Makin besar, makin rajinlah aku melakukan perintah agama, dan dongeng-dongeng tentang neraka itu tidak luntur, melainkan malah makin menempel terus dalam hatiku” (Atheis, 1990: 26-27)
Pada novel ini tokoh utama Hasan dimatikan hidup dan pikirannya juga, bagaimana akhirnya ia kembali pada perasaan berdosa lagi, perenungannya kembali pada keberadaan Tuhan lagi dan merasa dekat dengan Tuhan lagi, kematiannya pun mengucapkan kata Allahu Akbar, meskipun saya tidak tahu apakah kata tersebut keluar hanya sebagai refleks saja atau memang Hasan telah kembali tunduk kepada Tuhan.
Novel Atheis entah mengapa hanya mempertemukan tokoh-tokoh berpaham “kiri” nan materialisme sebagai penganut paham Atheis, seolah-olah semua penganut paham “kiri” semuanya adalah atheis, apakah karena semangat pembebasan yang begitu tinggi dalam paham “kiri”  dan latar belakang Ahadiat K.Mihardja yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia? Jika melihat pada novel ada kisah tentang Hasan yang mandi di sungai Cikapundung pada dini hari dan Anwar yang menerobos makam yang dipercaya keramat, apakah ada keinginan penulis juga yang ingin membebaskan bangsa dari takhayul dan kehidupan religius yang terlalu berorientasi pada hari kemudian tapi lupa kepada masa sekarang.
Saya sendiri merasakan pengalaman batin dari membaca novel Atheis ini, saat pertama kali membacanya saat SMA  dengan polosnya saya semakin menganggap komunis sebagai paham dari orang-orang yang tidak bertuhan. Namun, setelah membaca novel Atheis untuk kedua kalinya alih-alih semakin tidak menyukai komunis, saya malah merasa perlu lebih maksimal lagi dalam menjalani kehidupan beragama, yakni Iman yang harus selalu tetap dalam keluhurannya dan Taqwa ritual-sosial yang lebih lagi. 
Pembaca zaman ini banyak yang telah mengetahui kalau dunia barat semakin didominasi penganut Irreligi dengan konsepnya yang bermacam-macam, dari mulai deis, atheis, agnostik, panteis, dll, jadi Kalau dikatakan novel Atheis menyebarkan paham Atheis dan membuat pembacanya dapat menjadi seorang atheis jelas terlalu berlebihan. Hahaha


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang menggunakan bahasa tidak baik seperti sara,porno