Sabtu, 22 Oktober 2016

Menuju Keruntuhan Prinsip Asmara: Berlaluzone

"Gue sayang banget sama lu"
"Cuma lu laki-laki yang gue sayang"


    Kata-kata yang ditujukan pada saya beberapa tahun lalu - yang sampai sekarang masih terdengar begitu tulus, mulai membisik-bisik lagi di telinga saya belakangan, lebih tepatnya sekitar dua-tiga bulan belakangan, oh betapa saya mengkhawatirkan kenangan-kenangan itu akan mengubah pandangan saya yang anti asmara sebelum nikah sejak setahun setengah belakangan seperti pacaran, kakak-adik zone dan taaruf.

   Saya rasa pemicu kerinduan untuk mendengarkan kembali kata-kata itu tidak lain adalah perilaku posesif yang tanpa terasa sudah lebih dari 3 tahun tak saya salurkan. 3 tahun tanpa perilaku posesif, yang pada tahun pertama diisi dengan tolakzone yang monoton karena terus-menerus ditolak dan tertikung, dan di tahun kedua dan tahun ketiga berubah menjadi berlaluzone yang fasenya perkenalan-suka-menganggap asmara di sebelum menikah itu tidak penting-menjadi biasa saja seperti saat perkenalan.

   Berlaluzone sekilas adalah puncak bayangan menuju ke puncak prinsip anti asmara di luar nikah saya, kesuksesan saya untuk menahan diri pada tahap suka lalu mengubahnya menjadi biasa sehingga saya tidak jatuh cinta seperti sebelum-sebelumnya membuat saya merasa mampu memaksa hati untuk memandang realita di tahap ini, bahwa tidak mungkin waktu saya disalurkan untuk waktu-waktu non-pengembangan diri yang daintaranya termasuk asmara sebelum menikah.

  Berlaluzone menjadi zona nyaman saya, meski hampir gagal di wanita terakhir yang saya sukai, setengah mati saya menahan supaya tidak melakukan pengamatan dan pendekatan yang akan mengubah suka menjadi perasaan jatuh cinta, saya begitu menikmati perasaan yang tenang hari demi hari tanpa memikirkan asmara yang rumit, masa muda saya tidak akan kehilangan waktu dan kegemilangannya karena masalah asmara.


Titik Balik

   Berlaluzone sebagai zona nyaman saya akhirnya menuju keruntuhan setelah terpicu oleh salah satu teman baik saya yang mendapatkan pasangan yang menurut saya seorang wanita yang sempurna, kecantikannya hanya menjadi penghias dari sikap baiknya saja, mungkin semua laki-laki yang mengenalnya tidak peduli dengan kecantikan wanita tersebut setelah tahu sikap baiknya, wanita itu pengingkaran dari teman saya yang saya anggap "kurang dewasa".

     Saya yang "geram" lalu terjun mencoba mengamati keseharian pasangan teman saya yang saya nilai sebagai wanita sempurna itu hanya dari sikap baiknya, ternyata dari pengamatan itu saya hanya mendapatkan pendapat umum, bahwa asmara adalah sesuatu yang saling melengkapi, teman saya punya kelebihan yang berharga bagi wanita itu, wanita itu didapatkan oleh teman saya pun melalui proses, dan yang mengejutkan saya adalah keduanya saling bersandar, di luar prediksi saya bahwa sang wanita sempurna itu hanya menjadi sandaran teman saya saja. Saya melihat bersatunya mereka sebagai perpaduan yang lahir dari pengingkaran, bukan faktor beruntung teman saya semata,

   Dari sana saya merasa tidak perlu untuk menghindari hubungan/komitmen asmara sebelum menikah dan merasa berlaluzone hanya menjadi suatu bom waktu karena saya hanya menahan kodrat laki-laki saya yang pasti selalu bangkit, yaitu kebutuhan akan kasih sayang wanita (yang akan "diesakan" dengan menikah kelak).  


Minggu, 09 Oktober 2016

Menikah Lima Tahun Lagi?

      Usia saya baru saja menginjak 20 tanggal 9 Mei lalu, Takjub di usia 20 ini ketika mengingat saat-saat setelah lulus SMP dan menjelang masuk SMA, sewaktu masa remaja awal dulu, betapa mudahnya mengatakan target menikah saya pada usia 25. Saya memandang wajar tekad untuk menikah di usia 25 ketika sekolah dulu, apa yang saya pandang dan saya harapkan dari pernikahan saat itu adalah keluarga sebagai bagian pola pikir jalan hidup arus utama dimana kehidupan hanya wisuda-bekerja-berkeluarga-meninggal dunia.
       Namun kini, jangankan mempersiapkan pernikahan di usia ke 25 yang datang lima tahun lagi, 10 atau 20 tahun lagi masih membujang atau sudah berkeluarga saja saya tidak tahu dan tidak peduli. Pernyataan saya akan ketidakpedulian pada kapan akan melaksanakan pernikahan mungkin dipandang tidak wajar oleh banyak orang, atau bisa juga dipandang lawak, tetapi sungguh-sungguh saya tidak tahu keputusan saya untuk berkeluarga sudah sampai di mana, masih jauh atau sudah dekat. dahulu saya menganggap pernikahan adalah suatu pencapaian layaknya kelulusan atau medali, kini saya menganggapnya hanya sebagai suatu sunnah, bukan suatu kesalahan jika saya menunda atau tidak melaksanakannya, biarpun jelas akan ada pertanyaan mengapa tidak.
     Saya sudah mengatakan hal tersebut kepada ayah saya, tanggapan ayah saya begitu biasa ketika saya mengungkapkan kepadanya akan ketidakpedulian saya tentang kapan saya akan melaksanakan pernikahan. Saya rasa responnya yang biasa saja tidak dapat langsung diartikan sebagai suatu tanda-tanda memaklumi pernyataan saya atau tanda-tanda cuek hanya karena ia jua baru menikah di usia 40. Sejujurnya saya agak tidak enak hati ketika mengeluarkan pernyataan tersebut, meski di satu sisi saya lega, minimal saya hanya mendengar pertanyaan "kapan nikah?" hanya dari orang-orang yang saya anggap asing atau hanya sebagai gurauan di warung kopi/kantin bersama teman-teman saya.
       Saya harap ayah saya melihat tantangan hidup saya yang lebih besar darinya di masa muda, saya percaya masa remaja ayah saya lebih menyenangkan dengan kemampuan bergaulnya yang baik, punya ibu yang menurut cerita sangat care dan status anak perwira, siapa yang berani berbuat jahat pada tentara di era kediktatoran orde baru selain sang diktator sendiri?