Minggu, 09 Oktober 2016

Menikah Lima Tahun Lagi?

      Usia saya baru saja menginjak 20 tanggal 9 Mei lalu, Takjub di usia 20 ini ketika mengingat saat-saat setelah lulus SMP dan menjelang masuk SMA, sewaktu masa remaja awal dulu, betapa mudahnya mengatakan target menikah saya pada usia 25. Saya memandang wajar tekad untuk menikah di usia 25 ketika sekolah dulu, apa yang saya pandang dan saya harapkan dari pernikahan saat itu adalah keluarga sebagai bagian pola pikir jalan hidup arus utama dimana kehidupan hanya wisuda-bekerja-berkeluarga-meninggal dunia.
       Namun kini, jangankan mempersiapkan pernikahan di usia ke 25 yang datang lima tahun lagi, 10 atau 20 tahun lagi masih membujang atau sudah berkeluarga saja saya tidak tahu dan tidak peduli. Pernyataan saya akan ketidakpedulian pada kapan akan melaksanakan pernikahan mungkin dipandang tidak wajar oleh banyak orang, atau bisa juga dipandang lawak, tetapi sungguh-sungguh saya tidak tahu keputusan saya untuk berkeluarga sudah sampai di mana, masih jauh atau sudah dekat. dahulu saya menganggap pernikahan adalah suatu pencapaian layaknya kelulusan atau medali, kini saya menganggapnya hanya sebagai suatu sunnah, bukan suatu kesalahan jika saya menunda atau tidak melaksanakannya, biarpun jelas akan ada pertanyaan mengapa tidak.
     Saya sudah mengatakan hal tersebut kepada ayah saya, tanggapan ayah saya begitu biasa ketika saya mengungkapkan kepadanya akan ketidakpedulian saya tentang kapan saya akan melaksanakan pernikahan. Saya rasa responnya yang biasa saja tidak dapat langsung diartikan sebagai suatu tanda-tanda memaklumi pernyataan saya atau tanda-tanda cuek hanya karena ia jua baru menikah di usia 40. Sejujurnya saya agak tidak enak hati ketika mengeluarkan pernyataan tersebut, meski di satu sisi saya lega, minimal saya hanya mendengar pertanyaan "kapan nikah?" hanya dari orang-orang yang saya anggap asing atau hanya sebagai gurauan di warung kopi/kantin bersama teman-teman saya.
       Saya harap ayah saya melihat tantangan hidup saya yang lebih besar darinya di masa muda, saya percaya masa remaja ayah saya lebih menyenangkan dengan kemampuan bergaulnya yang baik, punya ibu yang menurut cerita sangat care dan status anak perwira, siapa yang berani berbuat jahat pada tentara di era kediktatoran orde baru selain sang diktator sendiri?

      




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang menggunakan bahasa tidak baik seperti sara,porno