Sabtu, 22 Oktober 2016

Menuju Keruntuhan Prinsip Asmara: Berlaluzone

"Gue sayang banget sama lu"
"Cuma lu laki-laki yang gue sayang"


    Kata-kata yang ditujukan pada saya beberapa tahun lalu - yang sampai sekarang masih terdengar begitu tulus, mulai membisik-bisik lagi di telinga saya belakangan, lebih tepatnya sekitar dua-tiga bulan belakangan, oh betapa saya mengkhawatirkan kenangan-kenangan itu akan mengubah pandangan saya yang anti asmara sebelum nikah sejak setahun setengah belakangan seperti pacaran, kakak-adik zone dan taaruf.

   Saya rasa pemicu kerinduan untuk mendengarkan kembali kata-kata itu tidak lain adalah perilaku posesif yang tanpa terasa sudah lebih dari 3 tahun tak saya salurkan. 3 tahun tanpa perilaku posesif, yang pada tahun pertama diisi dengan tolakzone yang monoton karena terus-menerus ditolak dan tertikung, dan di tahun kedua dan tahun ketiga berubah menjadi berlaluzone yang fasenya perkenalan-suka-menganggap asmara di sebelum menikah itu tidak penting-menjadi biasa saja seperti saat perkenalan.

   Berlaluzone sekilas adalah puncak bayangan menuju ke puncak prinsip anti asmara di luar nikah saya, kesuksesan saya untuk menahan diri pada tahap suka lalu mengubahnya menjadi biasa sehingga saya tidak jatuh cinta seperti sebelum-sebelumnya membuat saya merasa mampu memaksa hati untuk memandang realita di tahap ini, bahwa tidak mungkin waktu saya disalurkan untuk waktu-waktu non-pengembangan diri yang daintaranya termasuk asmara sebelum menikah.

  Berlaluzone menjadi zona nyaman saya, meski hampir gagal di wanita terakhir yang saya sukai, setengah mati saya menahan supaya tidak melakukan pengamatan dan pendekatan yang akan mengubah suka menjadi perasaan jatuh cinta, saya begitu menikmati perasaan yang tenang hari demi hari tanpa memikirkan asmara yang rumit, masa muda saya tidak akan kehilangan waktu dan kegemilangannya karena masalah asmara.


Titik Balik

   Berlaluzone sebagai zona nyaman saya akhirnya menuju keruntuhan setelah terpicu oleh salah satu teman baik saya yang mendapatkan pasangan yang menurut saya seorang wanita yang sempurna, kecantikannya hanya menjadi penghias dari sikap baiknya saja, mungkin semua laki-laki yang mengenalnya tidak peduli dengan kecantikan wanita tersebut setelah tahu sikap baiknya, wanita itu pengingkaran dari teman saya yang saya anggap "kurang dewasa".

     Saya yang "geram" lalu terjun mencoba mengamati keseharian pasangan teman saya yang saya nilai sebagai wanita sempurna itu hanya dari sikap baiknya, ternyata dari pengamatan itu saya hanya mendapatkan pendapat umum, bahwa asmara adalah sesuatu yang saling melengkapi, teman saya punya kelebihan yang berharga bagi wanita itu, wanita itu didapatkan oleh teman saya pun melalui proses, dan yang mengejutkan saya adalah keduanya saling bersandar, di luar prediksi saya bahwa sang wanita sempurna itu hanya menjadi sandaran teman saya saja. Saya melihat bersatunya mereka sebagai perpaduan yang lahir dari pengingkaran, bukan faktor beruntung teman saya semata,

   Dari sana saya merasa tidak perlu untuk menghindari hubungan/komitmen asmara sebelum menikah dan merasa berlaluzone hanya menjadi suatu bom waktu karena saya hanya menahan kodrat laki-laki saya yang pasti selalu bangkit, yaitu kebutuhan akan kasih sayang wanita (yang akan "diesakan" dengan menikah kelak).  


Minggu, 09 Oktober 2016

Menikah Lima Tahun Lagi?

      Usia saya baru saja menginjak 20 tanggal 9 Mei lalu, Takjub di usia 20 ini ketika mengingat saat-saat setelah lulus SMP dan menjelang masuk SMA, sewaktu masa remaja awal dulu, betapa mudahnya mengatakan target menikah saya pada usia 25. Saya memandang wajar tekad untuk menikah di usia 25 ketika sekolah dulu, apa yang saya pandang dan saya harapkan dari pernikahan saat itu adalah keluarga sebagai bagian pola pikir jalan hidup arus utama dimana kehidupan hanya wisuda-bekerja-berkeluarga-meninggal dunia.
       Namun kini, jangankan mempersiapkan pernikahan di usia ke 25 yang datang lima tahun lagi, 10 atau 20 tahun lagi masih membujang atau sudah berkeluarga saja saya tidak tahu dan tidak peduli. Pernyataan saya akan ketidakpedulian pada kapan akan melaksanakan pernikahan mungkin dipandang tidak wajar oleh banyak orang, atau bisa juga dipandang lawak, tetapi sungguh-sungguh saya tidak tahu keputusan saya untuk berkeluarga sudah sampai di mana, masih jauh atau sudah dekat. dahulu saya menganggap pernikahan adalah suatu pencapaian layaknya kelulusan atau medali, kini saya menganggapnya hanya sebagai suatu sunnah, bukan suatu kesalahan jika saya menunda atau tidak melaksanakannya, biarpun jelas akan ada pertanyaan mengapa tidak.
     Saya sudah mengatakan hal tersebut kepada ayah saya, tanggapan ayah saya begitu biasa ketika saya mengungkapkan kepadanya akan ketidakpedulian saya tentang kapan saya akan melaksanakan pernikahan. Saya rasa responnya yang biasa saja tidak dapat langsung diartikan sebagai suatu tanda-tanda memaklumi pernyataan saya atau tanda-tanda cuek hanya karena ia jua baru menikah di usia 40. Sejujurnya saya agak tidak enak hati ketika mengeluarkan pernyataan tersebut, meski di satu sisi saya lega, minimal saya hanya mendengar pertanyaan "kapan nikah?" hanya dari orang-orang yang saya anggap asing atau hanya sebagai gurauan di warung kopi/kantin bersama teman-teman saya.
       Saya harap ayah saya melihat tantangan hidup saya yang lebih besar darinya di masa muda, saya percaya masa remaja ayah saya lebih menyenangkan dengan kemampuan bergaulnya yang baik, punya ibu yang menurut cerita sangat care dan status anak perwira, siapa yang berani berbuat jahat pada tentara di era kediktatoran orde baru selain sang diktator sendiri?

      




Sabtu, 24 September 2016

Krisis Pergaulan

Jika anda seseorang yang bermindset "Yang bisa durhaka hanya anak saja" sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini saja.

     Kesulitan bergaul sejauh ini adalah tantangan hidup terbesar pertama buat saya, sepertinya mamah tidak menyadari anak sulungnya terlahir sebagai seorang introvert. konon seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan dalam kepribadian apa seperti seseorang tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai Arab, Sunda, China atau Yahudi. Kepribadian bukanlah pilihan seperti orientasi seksual, introvert bukan dosa besar yang meluluhlantakan suatu negeri seperti homoseksual, ekstrovert bukan apa yang diminta Tuhan seperti heteroseksual yang melanggengkan keberadaan manusia hingga kini. 

Betapa sia-sianya kehilangan waktu yang dapat saya gunakan untuk berinteraksi dengan teman sebaya hanya karena keoverprotektifan mama. Dilarang futsal oleh teman sekelas, dimindsetkan untuk tidak cocok main sore dengan "anak kampung" hanya karena status cucu tokoh masyarakat setempat sampai "dikomputerkan" sekaligus "diinternetkan" sejak usia 8-9 tahunan kini menghantui saya. Hasilnya saya bersyukur memiliki hitungan jari sahabat dengan jangka waktu persahabatan diatas lima tahun - hitungan jari bukan majas yang saya gunakan, tapi memang benar-benar hitungan jari jumlah sahabat saya.

Saya menjadi orang yang bertolakbelakang dengan ayah saya dalam urusan bergaul, betapa tak terhitungnya teman-teman ayah saya, mungkin ada yang telah bertahan selama lebih dari setengah abad seiring usia ayah saya yang kini 61. Rasanya naas kalau membandingkan dengan pergaulan saya yang lebih disibukkan dengan teman-teman temporal. 

Pernikahan setelah wisuda sepertinya akan menjadi opsi supaya saya tak disibukkan lagi dengan teman-teman temporal bila krisis pergaulan ini tak kunjung selesai, meskipun saya sudah terlanjur berkata tidak peduli lagi 10-15 tahun kedepan sudah menikah atau belum kepada ayah saya. Sampai jumpa istriku, semoga janji suci kita kepada Tuhan, keluarga yang kita bangun, anak yang kita didik dan kebutuhan One Night Stand mengikatmu sebagai teman hidupku sampai mati.

Selasa, 23 Agustus 2016

Bahasa Sunda, Bahasa Pertamaku

       Jujur saja, kutipan dibawah ini adalah jawaban saya setiap mendapatkan pertanyaan tentang (kuliah) Sastra Indonesia:
"Minat gue tuh sebenernya ke Bahasa Sunda, tapi Bahasa Sunda bukan bahasa utama gue, makanya gue pilih Sastra Indonesia"
      Dua tahun lalu saya memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Sunda, terutama variasi dialeknya. Saya sampai rela mengunjungi daerah-daerah dimana Bahasa Sunda "bersaing" dengan Bahasa Cirebon dan Bahasa Jawa seperti Kandanghaur, Lelea, dan Majenang untuk melihat perbedaan Bahasa Sunda di daerah-daerah yang saya kunjungi itu dengan Bahasa Sunda mainstream. Seluruh kunjungan itu saya lakukan sendirian, tanpa terpikir kelak akan menjadi mahasiswa jurusan sastra haha!
      Bahasa Sunda adalah bahasa pertama dan bekas bahasa utama saya, kedua orang tua saya mengajarkan Bahasa Sunda sebelum Bahasa Indonesia. Bahasa Sunda kemudian tidak lagi menjadi bahasa utama saya lagi, bahasa di rumah berubah menjadi Bahasa Indonesia sejak saya menguasai bahasa tersebut, mungkin sekitar 15 tahun sudah Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama saya, meski dalam pergaulan dengan teman sebaya masih berbahasa Sunda, penggunaannya pun turun drastis sejak menetap di Jatinangor yang memiliki dialek Melayu sendiri, saya lebih banyak berbicara nyunda ketika tinggal di Bogor yang dekat dengan tanah Betawi, bahkan beberapa desa di utaranya saja Betawi.
    

Bahasa Melayu dialek Jatinangor

Bahasa Melayu Jatinangor adalah dialek Bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah pendidikan Jatinangor. Penuturnya berasal dari kalangan mahasiswa. Berikut contoh kata-kata Bahasa Melayu Jatinangor:
1. Aing/Urang: Saya
2. Maneh: Kamu
3. Akang: Kakak (tingkat) Laki-laki
4. Teteh: Kakak (tingkat) Perempuan
Biasanya penutur bahasa Melayu Jatinangor mengalami kesulitan ketika melaksanakan ibadah Shalat Jum'at, karena beberapa Surau di Jatinangor menggunakan Bahasa Sunda dalam ceramah dan pupujian.

Minggu, 26 Juni 2016

Cerahnya Hidupku Tanpa Takhayul

Awan mendung sering berakhir dengan rintik air hujan yang turun, awan mendung kadang juga datang sebagai kecohan yang sejenak menyembunyikan langit cerah.
      

  • Prolog       

Tulisanku ini bukan cerita fiksi, sampai sekitar setahun lalu aku masih percaya bahwa aku adalah manusia yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu meramal dan melihat hantu sekaligus memberikan perintah pada mereka. Dalam salah satu kelompok bermainku bahkan aku dikenal sebagai salah satu peramal yang akurat dan ahli perhantuan mumpuni. Kini aku percaya bahwa aku dan semua orang adalah manusia biasa, aku bisa menyebut Nabi sebagai manusia luar biasa, tapi setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing, para Nabi memiliki keistimewaan sebagai manusia yang diutus Tuhan, mukjizat mereka yang diluar nalar biarlah menjadi peneguh imanku, jadi aku dapat kembali pada kesimpulan bahwa semua orang adalah manusia biasa.
 Konon, kemampuan istimewaku itu didapat dari garis keturunan, ibuku mendapatkan warisan ilmu itu dari kakeknya, dan aku adalah pewaris kemampuan ibuku. Ibuku memang seorang peramal juga, entah ia masih percaya atau tidak karena setidaknya sudah tiga tahun aku tidak berbicara dari lagi dengannya sejak harta melimpah yang datang secara tiba-tiba memisahkan hati kami hingga sekarang dalam masa kebangkrutannya. interaksi dengan ibuku sekarang hanya sebatas doa Rabbigfirli waliwalidaya yang kupanjatkan sehabis salat.

  • Ibu

Ibu adalah pembimbing kemampuan istimewaku, Ibuku menjelaskan soal dunia lain, mengapa rumahku di Bogor begitu mistis, hantu-hantu yang kulihat sekelebat maupun cukup lama, termasuk siapa macan putih yang paling sering menampakan diri, yang ia bilang sebagai pengikut keluargaku, siapa pocong di bawah pohon rambutan yang benar-benar terlihat begitu nyata saat SD, suatu penampakan paling lama yang kulihat. Ibu juga lebih dari sekali mengingatkan aku, perempuan pilihanku tidak akan berjodoh denganku jika ia tidak cocok dengan ‘makhluk’ yang ada dalam diriku.
Ibuku menceritakan juga padaku tentang ramalan-ramalannya dan yang terjadi, seperti kepergian kakekku dan jabatan tinggi yang akhirnya diraih oleh salah satu saudara. Ramalannya tentang diriku adalah tidak tamatnya aku di bangku SMA karena akan menjadi orang yang melanglangbuana sehingga ia memasukanku ke sekolah dasar di usia 5 tahun, nyatanya aku tidak tamat meneruskan kuliahku di jurusan Pendidikan Teknik Elektro (PTE), bukan SMA, itu juga bukan karena melanglangbuana, tapi karena depresi akibat masalah-masalah keluarga di awal perkuliahan, plus lalasutan dalam kuliah setelah masalah-masalah keluarga itu satu persatu beres. Tidak lupa jua ia bercerita tentang temannya dari India yang meramal aku akan menjadi seorang insinyur, nyatanya sekarang aku kuliah di jurusan Sastra. Insinyur bahasa daerah se-Pulau Jawa? #MikirKeras

  • Selamat Jalan Ramalan!


Aku mulai meramal sekitar 5 tahun lalu, waktu itu banyak sekali orang yang bertanya soal masa depan terutama jodohnya, sampai saat kenaikan kelas XII aku pindah ke Bandung dan klien-klienku pun menghilang, meski begitu salah satu klien, sekaligus sahabatku kerap mengirim pesan padaku, soal ramalan-ramalan yang kuucapkan ketika SMA dulu, yang banyak terjadi belakangan ini. Belum lama ini aku mengirim pesan padanya tentang ketidakpercayaanku pada hal-hal itu lagi.
Ramalanku itu tentang masa depannya ketika kuliah, kukatakan kekasihnya itu kelak akan menjadi perempuan bergaya hidup matre dan ia akan dekat dengan banyak perempuan, hubungan mereka renggang tapi selalu bersama yang dalam bahasa Sunda Awet rajet dan beberapa hal terjadi. Ia mempercayai hal-hal yang terjadi itu sebagai hasil ramalanku yang akurat, ia mengabaikan gagalnya ramalanku soal hubungan renggang yang ternyata putus (akibat orang ketiga pula) dan gagalnya kami kuliah di kota yang sama. Kekasihnya yang kini sudah berstatus mantan itu menjadi perempuan bergaya hidup matre sekarang sepertinya karena lingkungan pergaulannya plus kekasihnya sekarang yang kaya.
Oh iya, menjelang lulus SMA aku yang hanya memikirkan FMIPA ITB dan Ushuluddin UIN sebagai kampus tujuanku malah mendapatkan ‘penglihatan’ bahwa aku akan kuliah di Unpad, gerbangnya sampai terbayang. Kini aku memang kuliah di Unpad, itu semua adalah hasil nego dengan ayah soal kuliahku yang berantakan akademis dan non akademis di PTE dan hasil belajar sekitar tiga jam per hari tiga minggu sebelum SBMPTN tahun 2015 dilaksanakan.
Sebenarnya masih banyak ramalan-ramalanku, ibuku, temanku dan orang lain yang tidak terjadi sama sekali atau dapat dijawab dengan kenyataan sebetulnya, tetapi ramalan-ramalan diatas kurasa sudah banyak dipermalukan oleh kenyataan yang menjawabnya tanpa bisa dibantah. Selamat tinggal ramalan, selamat datang cita-cita, semoga terangnya kenyataan menjawab cita-citaku dengan indah.

Senin, 30 Mei 2016

Keluarga-utuh Normatif

Keluarga-utuh normatif, pandangan bahwa kehidupan keluarga hasil perceraian tidak berbeda dengan kehidupan keluarga utuh. Keluarga-utuh normatif membuat seseorang menilai wujud timbal balik antara anak dan orang tua dalam keluarga bercerai harus sama seperti layaknya keluarga utuh. Contohnya ucapan-ucapan ini :
  1. "Parah banget lu gak nyempetin mudik, ibu lu kan disono" 
  2. "Gila lu tiga tahun gak ketemu babeh padahal tinggal sekota" 
  3. "Ayah lu ayah macem apa sih? kerjanya bagus kok lu tetep disuruh minta duit ke ibu?"
  4. Ceramah akan pentingnya berbakti kepada orang tua, seolah-olah semua anak broken home lupa ia lahir dari rahim ibunya dan berasal dari sel sperma ayahnya, ini yang paling menyebalkan dan paling parah.
Saya sendiri, sebagai anak broken home yang mengetahui keberadaan kedua orang tua, masih berhubungan baik dengan kedua keluarga besar masing-masing orang tua, bersikap biasa saja setiap menghadapi pelaku keluarga-utuh normatif ini, tetapi bagaimana dengan teman-teman broken home yang lain? mereka yang tidak tahu dimana rimba salah satu orang tuanya? mereka yang lahir dari pernikahan yang tidak sah secara negara? mereka yang tidak diizinkan bertemu dengan orang tua kandung oleh orang tua tirinya? mereka yang salah satu orang tuanya proletar sementara orang tua yang satunya lagi borjuis?.


Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Baca Atheis, Nanti jadi Atheis?

Pada kata pengantar cetakan 1990 dikatakan bahwa Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang tipikal bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup yang tradisional ke gaya hidup yang  modern, yang terasa sekali di bidang sosial, budaya dan politik. Pergeseran itu memberikan imbas antara lain gesekan antar paham dan pergolakan batin  
Roman Atheis, semua berawal dari pertemuan kembali dua sahabat lama yaitu Rusli dan Hasan, selain pola asuh yang berbanding terbalik pada masa kecilnya, keduanya berjumpa dalam perbedaan kepercayaan yang ruang lingkupnya bukanlah agama lagi, melainkan konsep teologis tentang ketuhanan, Hasan adalah seorang theis yang memeluk Islam sejak kecil dan Rusli adalah seorang Atheis, yang tidak percaya pada keberadaan Tuhan. Kedua penganut paham ini entah mengapa pada awalnya sama-sama menunjukan kefanatikan terhadap pahamnya masing-masing melalui perdebatan, kalau saya meminjam istilah seleb ask.fm favorit saya “orgasme”, pada Hasan yang theis ia melakukan “orgasme iman” dan pada Rusli “orgasme atheisme”. Bagi saya novel Atheis menggambarkan keantagonisan kaum Religi dan Irreligi.
“Apa artinya kepandaian manusia itu, bila dibandingkan dengan kepandaian Tuhan yang menciptanya." Dengan tak kusangka-sangka, Rusli tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja, sambil menggulung-gulung lagi sebatang rokok baru. Mukanya tetap tenang. Beberapa jurus kemudian, barulah ia berkata lagi, tapi seolah-olah tak acuh akan perkataan barusan itu. Ujarnya, "Dan saya yakin, bahwa pada suatu saat, entah sepuluh tahun lagi, entah seratus tahun lagi, entah seribu, dua ribu tahun lagi,  kepandaian  dan  pengetahuan  manusia  itu  akan sedemikian  majunya,  sehingga  ia  akan  sanggup menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.” (Atheis, 1990: 83-84)
Siapa sangka Hasan kemudian terpengaruh oleh Rusli menjadi seorang penganut atheis, menurut saya pilihan Hasan menjadi atheis ini ia lakukan dengan mudah, karena tampaknya sebelum berjumpa dengan Rusli ia tidak pernah melakukan perenungan terhadap kehidupan beragamanya. Efek psikologis dari masa kecilnya yang selalu ditakut-takuti tentang neraka dan ketenangan orang tuanya setelah beribadah, meskipun dipengaruhi Kartini juga :
“Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka. Itulah, maka aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang agama, dan kalau aku lengah sedikit saja, maka segeralah aku diperingatkan kepada hukuman dan siksaan dalam neraka. Makin besar, makin rajinlah aku melakukan perintah agama, dan dongeng-dongeng tentang neraka itu tidak luntur, melainkan malah makin menempel terus dalam hatiku” (Atheis, 1990: 26-27)
Pada novel ini tokoh utama Hasan dimatikan hidup dan pikirannya juga, bagaimana akhirnya ia kembali pada perasaan berdosa lagi, perenungannya kembali pada keberadaan Tuhan lagi dan merasa dekat dengan Tuhan lagi, kematiannya pun mengucapkan kata Allahu Akbar, meskipun saya tidak tahu apakah kata tersebut keluar hanya sebagai refleks saja atau memang Hasan telah kembali tunduk kepada Tuhan.
Novel Atheis entah mengapa hanya mempertemukan tokoh-tokoh berpaham “kiri” nan materialisme sebagai penganut paham Atheis, seolah-olah semua penganut paham “kiri” semuanya adalah atheis, apakah karena semangat pembebasan yang begitu tinggi dalam paham “kiri”  dan latar belakang Ahadiat K.Mihardja yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia? Jika melihat pada novel ada kisah tentang Hasan yang mandi di sungai Cikapundung pada dini hari dan Anwar yang menerobos makam yang dipercaya keramat, apakah ada keinginan penulis juga yang ingin membebaskan bangsa dari takhayul dan kehidupan religius yang terlalu berorientasi pada hari kemudian tapi lupa kepada masa sekarang.
Saya sendiri merasakan pengalaman batin dari membaca novel Atheis ini, saat pertama kali membacanya saat SMA  dengan polosnya saya semakin menganggap komunis sebagai paham dari orang-orang yang tidak bertuhan. Namun, setelah membaca novel Atheis untuk kedua kalinya alih-alih semakin tidak menyukai komunis, saya malah merasa perlu lebih maksimal lagi dalam menjalani kehidupan beragama, yakni Iman yang harus selalu tetap dalam keluhurannya dan Taqwa ritual-sosial yang lebih lagi. 
Pembaca zaman ini banyak yang telah mengetahui kalau dunia barat semakin didominasi penganut Irreligi dengan konsepnya yang bermacam-macam, dari mulai deis, atheis, agnostik, panteis, dll, jadi Kalau dikatakan novel Atheis menyebarkan paham Atheis dan membuat pembacanya dapat menjadi seorang atheis jelas terlalu berlebihan. Hahaha


Kamis, 31 Maret 2016

Oh Sastra Kontemporer

Ketika kuliah Telaah Naskah

"Gue masih ngarep prodi kita kebagian konsentrasi deh, semalem gue baru nyadar kalo gue gak demen sastra"
"Terus lu mau ngambil apa kalau ada konsentrasi? Linguistik?"
"Filologi"
"Lah lu lupa pengertian sastra? filologi kan sastra juga, lu gak suka sastra kontemporer tepatnya!"

Tadinya sih udah nulis keluhan ini-itu dari A-Z dengan bahasa Indonesia yang baku, tiba-tiba pas ngitung jumlah mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer cuma belasan dari tujuh puluhan mata kuliah yang harus dilahap sampe sarjana kelak, bibir tersungging, keluhan yang udah tertulis tak hapus dan otak langsung fresh, meski gak tau juga bobot mata kuliah yang berhubungan sama sastra kontemporer itu separah apa hehehe.


Wisuda 2019!

Andai dikasih rejeki sama Tuhan (kalau ada itu juga) ya wisuda 2018 sih

Sabtu, 26 Maret 2016

Heteroseksual

      Ya, saya memiliki orientasi seksual heteroseksual, yang membuat saya tertarik pada lawan jenis. Ekspresi gender saya pun maskulin, sejak kecil saya sudah merasa sama seperti laki-laki kebanyakan, merasa nyaman dilahirkan sebagai laki-laki. Karena memang sudah dasarnya menyukai lawan jenis, bila seseorang memaksa saya untuk mengubah orientasi seksual saya tentu saya akan berontak! Bila seseorang memaksa saya untuk mengubah ekspresi gender saya, meskipun saya menyukai beberapa kegiatan yang dianggap 'feminin' seperti menari dan main congklak juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di bidang yang dianggap feminin (Ahli Tata Boga, Tata Busana atau Tata Rias), saya akan berontak! gak mungkin dong saya yang maskulin nyaman kalau harus pake high heels setiap datang ke pesta pernikahan, pakai make up setiap pergi ngaji dan berbicara lemah gemulai setiap saat.


Mengapa muncul ejekan "homoseksual" pada seseorang yang terlalu lama menjomblo atau enggan dicomblangkan? Sementara para homoseksual sendiri banyak yang menjalin hubungan pacaran/taaruf/pernikahan dengan lawan jenis. 

Kamis, 10 Maret 2016

Menjadi Anggota Paduan Suara

   Sejujurnya hobi menyanyi adalah hobi baru saya, saya memang menyukai musik dan sempat mengikuti les gitar selama dua tahun sebelum stuck karena tiga kali gagal ujian kenaikan tingkat. Saat tahun 2012 saya menyanyi untuk mengganggu teman sekelas saya dengan suara fals (Serius!) dan tahun tersebut adalah tahun saya saya terkena "demam Dewa 19" hobi menyanyi kemudian mengantarkan saya pada pengalaman pahit dua tahun berturut-turut ditolak audisi penerimaan anggota baru Paduan Suara Mahasiswa (PSM) kampus lama saya.
     
   Kesempatan mengikuti kegiatan paduan suara akhirnya datang setelah saya pindah kampus, di PSM kampus baru saya sekarang tidak diadakan audisi dalam penerimaan anggota baru, audisi dilakukan untuk mengikuti kompetisi dan konser tahunan. Saya mendapatkan bagian suara bass I dan sempat nyaris ditunjuk sebagai tenor II saat ambitus, dua hal tersebut membuat saya semakin yakin saya adalah pria bersuara bariton, suara paling umum dimiliki pria di dunia. Sebelum ikut PSM saya sudah yakin saya adalah pria dengan jenis suara bariton setelah mencari referensi di Youtube,
   
   Sekarang PSM sedang menjalani latihan persiapan konser intern gabungan angkatan 2015 dan angkatan 2014 berjudul yang akan dilaksanakan pada 11 Mei 2016, efek latihan persiapan konser intern, muncul PSM yang ternyata sangat menyiksa sesungguhnya, seperti selalu harus konfirmasi bila akan telat atau tidak akan hadir latihan, sikap konduktor yang berubah lebih keras ketimbang saat latihan reguler belum lagi latihan yang dilaksanakan empat kali seminggu dan tiga kali diantaranya di kampus Bandung, setiap latihan berdurasi 4-5 jam, Sempat terpikir untuk keluar saja dari konser intern karena masalah latihan tiga kali seminggu di kampus Bandung yang menguras uang dan tenaga tersebut, tetapi saya selalu teringat apa yang ada dalam isi kepala saya saat pertama mengetahui penerimaan anggota baru di PSM Unpad tidak menggunakan mekanisme audisi. Sebelum diterima di Unpad saya berpikir kesempatan ikut PSM sudah lewat karena waktu itu saya belum terpikir untuk pindah kuliah.

"Saya sudah berpikir kesempatan menjadi anggota PSM sudah lewat, saya tidak menyangka kesempatan akan datang juga"
    Kalimat tersebut membuat saya mencoba naik motor menuju kampus Bandung dan ternyata naik motor selain lebih mengirit ongkos juga tidak semelelahkan naik kendaraan umum bagi saya, tidak membuat saya kelelahan seperti yang saya perkirakan. Akhirnya saya pun mencoba untuk terus berpartisipasi dalam konser intern, berharap acara ini sukses dan tentu berharap juga saya sukses mengikuti konser tersebut hehe.


(*)
Kepada siapapun yang menciptakan dan mempertahankan mekanisme tanpa audisi dalam penerimaan anggota baru PSM Unpad, Terima Kasih banyak!

Jumat, 05 Februari 2016

Sumedang (Curhat)

    Saya tidak berada di daerah pusat kabupaten Sumedang, saya berada di perbatasan Sumedang-Bandung, tepatnya Jatinangor, saya di Jatinangor untuk kuliah di Universitas Padjadjaran yang identik dengan 'Bandung'. koran Bandung lebih mudah didapat ketimbang koran Sumedang disini. Banyak orang yang tidak menyangka juga daerah Jatinangor termasuk dalam wilayah kabupaten Sumedang.
       Belum ada perubahan drastis di kehidupan sehari-hari setelah keluar dari Bandung. masih belum bisa ngatur pola tidur dan pola makan, belum coba menghasilkan uang sendiri, masih mudah tersiksa berlama-lama dalam kumpulan orang biarpun saling kenal, masih belum yakin sifat introvert yang Napeul pada saya sekarang itu adalah pemberian lahir seperti sumber-sumber di internet, masih merasa tujuh tahun hidup tanpa diajarkan sosialisasi adalah penyebab saya akhirnya menjadi seorang introvert. orang yang menggunakan banyak waktu sendiri untuk memenuhi kepuasan pribadinya.
       Persenan perubahan gaya belajar ke arah yang lebih baik juga masih kecil, baru sekitar dua puluh sampai tiga puluh persen. Kuliah Sastra, minat kepada bahasa dan hobi membaca karya Sastra adalah hal-hal yang berbeda. membaca puisi dan cerpen membuat saya merasa puas setelah menamatkannya. tentang minat saya kepada bahasa, cukup stalking akun orang Sunda Banten dan orang Sunda Cilacap dan menemukan perbedaan kedua dialek Sunda itu pada bahasa Sunda yang gunakan sehari-hari sudah membuat saya puas, umpan balik dari kedua kegiatan itu selain kepuasan pun sejauh ini belum saya temukan lagi. menjadi mahasiswa Sastra membuat saya harus keluar dari "Zona Puas" itu. meski sejauh ini saya puas bisa kuliah di bidang Sastra, setiap mata kuliah saya jalani dengan antusias (Abaikan mata kuliah yang dosennya saya tidak suka!), tugas-tugasnya tidak membuat saya tertekan meski dalam situasi deadline dan ada kepuasan tersendiri saja ketika menjalani kuliahnya, fikiran dipacu untuk kreatif meskipun mungkin setiap perguruan tinggi tetaplah pabrik buruh di Indonesia.
    Membaca menjadi hobi baru saya, frekuensi main PES setiap harinya berkurang, terakhir saya membaca buku filsafat sejarah yang ditulis Hegel dan baru sampai halaman seratusan. saya harap dengan membaca buku tersebut akan menjadi pintu bagi saya untuk memahami Kierkeegaard, Sartre yang pikirannya belum dapat saya jangkau. juga kedepannya untuk memahami Komunis baik itu Marxisme, Leninisme dan Maoisme, agar ketidaksetujuan saya terhadap Komunisme tidak menjadi kebencian buta belaka hanya karena kejamnya pemerintahan Korea Utara dan buku hariannya Soe Hok Gie.
Bersama kedua teman sejurusan saya, Naufan Ghifari dan Zulfah Nazala, tempat di Cikuda, Jatinangor, Sumedang.
      Orang lain mungkin bingung mengapa saya betah di kamar kostan ketika libur kuliah dua bulan lamanya, tapi jujur saya malas sekali untuk pulang ke rumah "de jure" saya di Bandung. Ayah saya tidak memiliki rumah pribadi, saya tinggal di rumah almarhum kakek, di rumah tersebut saya tinggal bersama saudara saya di rumah tersebut dan tidak dekat setelah serangkaian konflik, saya pulang karena saya sangat cinta ayah dan adik saya saja yang datang ke rumah tersebut setiap akhir pekan, komunikasi dengan ibu memburuk, hampir setahun saya tidak ingin menemuinya. berat untuk merasakan rumah kakek saya tersebut adalah rumah saya, ibarat memaksa saya sebagai homophobia yang berorientasi seksual heteroseksual menjadi homoseksual, yang ada makin kuat perlawanan saya, bahkan mungkin saya lebih memilih mati, saking gak sudinya.
   
   

Kehidupan Beragamaku

   Sebagai orang yang menganggap semua Khulafaur Rasyidin sama mulianya dan tidak mengutamakan Ali, kehidupan beragama saya pernah diliputi keraguan, terlalu banyak perntanyaan atau cerita dari penganut irreligi yang menguatkan bahwa agama itu hanya sebatas ideologi kuno dan kisah fiksi, terlalu banyak juga perbuatan segelintir ormas bahkan partai agama yang menunjukan jahatnya agama, dan yang paling buruk terlalu banyak kajian yang sifatnya hanya siraman rohani, bukan isian rohani, akhirnya tak terpenuhi lah kebutuhan rohani, namun biarlah kehidupan beragama saya bertahan hanya karena kata-kata yang malah membingungkan kalau dicari bagaimana praktisnya, Iman dan Ihsan. Sejauh ini 10 kepribadian muslimnya Hasan Al-Banna adalah sesuatu yang mengagumkan, meskipun saya tidak setuju dengan gerakan Ihwannul Muslimin. Mencari ilmu agama adalah salah satu agenda saya selama berada di Sumedang.