Selasa, 14 Juli 2015

Mengikuti SBMPTN Setelah Dua Tahun Kuliah

Pembaca yang budiman, sebelumnya anda bisa membaca artikel yang saya tulis Desember tahun 2013 lalu disini ketidakbersyukuran yang mungkin kini saya sesali namun telah menjadi bagian hidup saya dan sepatutnya jadi motivasi saya untuk selalu berusaha menjadi individu yang lebih baik.

#Menyesal itu tak pernah di awal
Saya seorang lulusan SMA tahun 2013, tahun 2013 diterima SBMPTN dan kuliah di jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI, sebagai "Calon Insinyur" yang sekaligus didapuk sebagai "Calon Guru SMK" saat itu saya malah terlalu bahagia hanya karena diterima di PTN, dan sesudah euforia bisa diterima PTN itu saya menderita "Syndrom ITB-UIN Jakarta" dan saya tidak berjuang memerangi kemalasan saya dalam mendalami keilmuan Teknik Elektro tersebut, Ketika teman-teman saya membeli atau meminjam buku Elektronika dasar, Teknik Digital, Kalkulus Purcell atau Fisika Giancolli, Saya malah berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku Mahabrata, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran dan buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan keilmuan Teknik Elektro, saya juga tidak berusaha keras memperbaiki IP jelek saya yang seukuran pensil (IP paling tinggi saya 2,3) dan mungkin terancam drop out.

#Keputusan Besar
Pada penghujung bulan April/Mei 2015 selain dihantui Drop Out, saya juga merasa jenuh di jurusan Teknik Elektro, setelah empat semester perkuliahan saya mendadak saya menginginkan sesuatu yang indah dalam kuliah saya baik dari segi akademik maupun kehidupan sosial dan kehidupan saya di masa mendatang, saya shalat istikharah antara harus bertahan di UPI atau pindah ke kampus lain, permintaan untuk ikut SBMPTN tahun 2015 tepat pada hari ulang tahun saya ke 19 mungkin menjadi kado pahit yang saya berikan pada ayah saya. Tahun 2014 juga saya ingin mengikuti SBMPTN lagi, namun ditolak keras oleh beliau, namun tahun 2015 ini Alhamdulillah Ayah saya merestui rencana saya tersebut tanpa marah sama sekali, faktor niat yang berbeda sepertinya, 2014 itu "ITB Syndrom" sedangkan di tahun 2015 niatnya kuliah sesuai minat, lancar dan mencerahkan masa depan.

#Persiapan SBMPTN
Dalam persiapan saya menghadapi SBMPTN 2015, saya langsung mencari-cari lagi referensi kampus dan jurusan, berniat beralih bidang keilmuan dari Sains dan Teknologi ke Sosial Humaniora, memastikan kalau ketiga pilihan yang tersedia di kartu peserta SBMPTN adalah keilmuan yang saya MINATI. Saya kemudian memilih Universitas Padjajaran dan Universitas Jenderal Soedirman, Dua PTN yang nyaris sama sekali tak saya lirik ketika kelas 12 SMA dulu, karena menganggap kedua PTN tersebut adalah "PTN Kelas dua yang tidak setara dengan dua gajah dan kampus dimana Go-Jek dihadang ojek pangkalan" kini jadi harapan saya untuk dapat memperbaiki nasib, semacam kualat.

Bank soal SBMPTN 2013 saya gunakan lagi, saya meminjam buku latihan soal bimbel 2013 lalu kepada teman bimbel saya (Hatur nuhun pisan Agri Pasca Ramdhani, semoga dibalas pahala berlipat-lipat), karena buku latihan soal bimbel saya sudah hilang. Awalnya saya merasa kesulitan belajar ilmu sosial terutama Matematika Dasar dan Geografi, Alhamdulillah lama-kelamaan terbiasa, apalagi setelah mendapat kunci jawaban dan pembahasan latihan soal SBMPTN yang banyak tersebar di Internet. bahkan saya sangat menyukai belajar Ekonomi waktu itu, Pelajaran yang menjadi alasan saya untuk tidak masuk IPS saat SMA, Namun di pelajaran Geografi saya masih kesulitan, akhirnya H-3 SBMPTN saya memutuskan untuk menyewa guru privat meski dalam sekali pertemuan, sesi privat yang hanya dua jam tersebut tidak banyak membahas soal, tapi sangat membantu saya mendapat gambaran materi Geografi secara sistematis. 


#Hari Ujian SBMPTN

TKDU saya kerjakan dengan lancar, Matematika Dasar yang saya perkirakan hanya mampu menjawab 2-3 soal ternyata mampu menjawab 6 soal. TKD Soshum justru menjadi mimpi buruk bagi saya, Saya tidak baik dalam mengerjakan Sosiologi dan Sejarah yang kebanyakan orang mampu menjawab banyak, beruntung beberapa soal adalah jackpot, yang jawabannya sangat jelas sehingga saya masih bisa mengisi kedua pelajaran tersebut dan diiringi nembak jawaban tentunya ^_^
Sepulang ujian saya berencana memeriksa jawaban-jawaban saya untuk memperkirakan nilai yang saya terima, tapi baru memeriksa satu soal Sosiologi dan ternyata salah saya langsung stress, tanpa pikir panjang soal ujian pun saya bakar supaya tidak menghantui saya, memang berlebihan sih reaksi saya ^_^

#Pengumuman kelulusan SBMPTN
Hari pengumuman kelulusan SBMPTN 2015 bertepatan dengan acara buka bersama kelas 9D SMPN 3 Bogor angkatan 2010, ada kisah lucu disini, sepertinya saat pertama kali membuka hasil saya salah memasukan nomor atau hal lain, nomor yang tertera dinyatakan "gagal lulus SBMPTN," saya pun lemas dan berusaha untuk have fun pada acara buka bersama dengan teman-teman lama saya. kebetulan ada teman saya yang tahun 2014 sudah pindah jurusan, saya berkata padanya "Wah, saya malah gak lulus tes mau pindah jurusan" menanamkan penggalan lirik lagu Last Child sebagai pikiran positif "Setidaknya diriku pernah berjuang"
Sepulang acara buka bersama saya menginap di rumah kawan saya, maklum sudah tidak punya rumah di Bogor lagi, saya masih terbayang-bayang hasil "Tidak Lulus dalam kesempatan terakhir mengikuti SBMPTN" saya membuka lagi website pengumuman hasil SBMPTN, memastikan mengisi nomor dan tanggal lahir secara benar, dan ternyata saya dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjajaran. langsung saja tubuh yang tadinya lemas menjadi penuh energi, saya tidak menyangka akan mendapat  kesempatan untuk kuliah di jurusan yang saya rasa adalah 'jiwa' saya, saya dapat kesempatan melangkah jauh lebih baik dari kemarin, impian saya jadi cum laude dan mawapres terbuka lagi, meski disisi lain saya juga harus sadar akan kehilangan umur saya, teman-teman sejurusan di kampus lama saya, uang orang tua yang tidak sedikit, mengambil bangku adik angkatan 2015 yang mungkin usahanya lebih keras dari saya (Saya merencanakan ikut SBMPTN sebulan sebelum pelaksanaan ujian, belajar pun cuma sebulan sebelum SBMPTN) dan banyak hal lainnya.

Sejak hari itu, 09 Juli 2015 saya yang membenci pikiran mayoritas orang "Proses lebih penting dari hasil" pun berubah, dahulu saya berfikir seluruh proses akan percuma tanpa hasil yang baik, tapi pada hari itu saya merasa telah ditunjukan betapa nikmatnya suatu proses. Terbayang lirik lagu Cupumanik yang berjudul Maharencana.
Semua berawal dari yang kau rasakan
dari hanya kisah kecil yang kau alami
dia memberi makna

peristiwa tak bicara dengan kata terbuka
bukalah mata rasa yang kau punya
agar kau tau artinya
Semoga yang merasa terkena "Syndrom Jaster PTN Favorit" salah jurusan atau hanya asal masuk PTN bisa serius dalam menjalani kuliahnya, Saya yakin kalau rajin dalam belajar dari awal pasti kesananya enjoy di universitas dan jurusan tersebut. Minta doanya juga dari pembaca supaya saya menjadi mahasiswa saleh yang berprestasi akademik, organisasi, membahagiakan orang tua dan sukses di kampus baru saya ;)

5 komentar:

  1. Selamat. Kisahmu hampir mirip denganku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cenderung gak disangka-sangka gitu teh? hehe

      Hapus
  2. kisahmu itu adalah hal yang aku alami sekarang

    BalasHapus
  3. mas mau nanya nih kira kira mahasiswa yg sudah terkena sanksi droup out bisa tidak masuk lagi melalui jalur sbmpt? mohon info nya thanks

    BalasHapus

Dilarang menggunakan bahasa tidak baik seperti sara,porno