Minggu, 05 Februari 2017

Masalah Ideal-Materi Terberat

    Sebetulnya saya punya beberapa tulisan yang belum selesai, yaitu telaah terhadap salah satu naskah Sunda, perkembangan kuliah saya dan pemikiran saya tentang pentingnya desakralisasi peran orang tua pada anak pasangan bercerai, tapi semuanya buntu sejauh ini. Kebuntuan itu mengantarkan saya pada perenungan, betapa tidak normalnya kehidupan saya, keluarga inti yang terdiaspora, ayah nun jauh di pusat Kabupaten Bekasi yang penuh debu dan bising deru mesin pabrik dengan penghasilan tidak menggambarkan profesi arsitek, ibu yang bersembunyi di rumah tak layak huninya di kaki Tangkubanprahu karena kejatuhan mentalnya, adik di Majalengka yang terlalu banyak kehilangan porsi peran orang tua di usianya.
  Perpisahan pasangan yang sama-sama tidak memiliki harta berupa rumah adalah cara mengembalikan anak kepada Tuhan, saya hanya bisa diam ketika muncul pertanyaan mengapa saya tidak pulang ke rumah saat liburan. Keluarga lengkap yang tak lengkap dan tak berumah menjadikan sistem keluarga tidak berjalan dengan baik di hidup saya. "Apakah saya bertanggungjawab penuh secara spiritual pada keluarga saya selayaknya seorang anak pada keluarga yang lengkap?" dan "Apakah saya dilahirkan untuk menjadi milik saya sendiri pada usia peran orang tua masih dibutuhkan?" adalah pertanyaan yang selalu membayangi saya.
       Lima tahun sudah kehidupan aneh saya dimulai sejak kepindahan dari Bogor yang membuat saya mesti lebih menyayangi diri saya sendiri ketimbang anak-anak muda lain, anak-anak muda lain memiliki rumah ideal kehidupan keluarga yang normal atau memiliki rumah dalam arti papan jika ia hidup sebagai anak dari pasangan bercerai, sedangkan saya adalah orang yang mempertanggungjawabkan langsung hidup saya kepada Tuhan, sebagai seorang yang tidak memiliki rumah ideal dan rumah materi.
-Segera Dihapus-
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang menggunakan bahasa tidak baik seperti sara,porno