Minggu, 26 Juni 2016

Cerahnya Hidupku Tanpa Takhayul

Awan mendung sering berakhir dengan rintik air hujan yang turun, awan mendung kadang juga datang sebagai kecohan yang sejenak menyembunyikan langit cerah.
      

  • Prolog       

Tulisanku ini bukan cerita fiksi, sampai sekitar setahun lalu aku masih percaya bahwa aku adalah manusia yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu meramal dan melihat hantu sekaligus memberikan perintah pada mereka. Dalam salah satu kelompok bermainku bahkan aku dikenal sebagai salah satu peramal yang akurat dan ahli perhantuan mumpuni. Kini aku percaya bahwa aku dan semua orang adalah manusia biasa, aku bisa menyebut Nabi sebagai manusia luar biasa, tapi setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing, para Nabi memiliki keistimewaan sebagai manusia yang diutus Tuhan, mukjizat mereka yang diluar nalar biarlah menjadi peneguh imanku, jadi aku dapat kembali pada kesimpulan bahwa semua orang adalah manusia biasa.
 Konon, kemampuan istimewaku itu didapat dari garis keturunan, ibuku mendapatkan warisan ilmu itu dari kakeknya, dan aku adalah pewaris kemampuan ibuku. Ibuku memang seorang peramal juga, entah ia masih percaya atau tidak karena setidaknya sudah tiga tahun aku tidak berbicara dari lagi dengannya sejak harta melimpah yang datang secara tiba-tiba memisahkan hati kami hingga sekarang dalam masa kebangkrutannya. interaksi dengan ibuku sekarang hanya sebatas doa Rabbigfirli waliwalidaya yang kupanjatkan sehabis salat.

  • Ibu

Ibu adalah pembimbing kemampuan istimewaku, Ibuku menjelaskan soal dunia lain, mengapa rumahku di Bogor begitu mistis, hantu-hantu yang kulihat sekelebat maupun cukup lama, termasuk siapa macan putih yang paling sering menampakan diri, yang ia bilang sebagai pengikut keluargaku, siapa pocong di bawah pohon rambutan yang benar-benar terlihat begitu nyata saat SD, suatu penampakan paling lama yang kulihat. Ibu juga lebih dari sekali mengingatkan aku, perempuan pilihanku tidak akan berjodoh denganku jika ia tidak cocok dengan ‘makhluk’ yang ada dalam diriku.
Ibuku menceritakan juga padaku tentang ramalan-ramalannya dan yang terjadi, seperti kepergian kakekku dan jabatan tinggi yang akhirnya diraih oleh salah satu saudara. Ramalannya tentang diriku adalah tidak tamatnya aku di bangku SMA karena akan menjadi orang yang melanglangbuana sehingga ia memasukanku ke sekolah dasar di usia 5 tahun, nyatanya aku tidak tamat meneruskan kuliahku di jurusan Pendidikan Teknik Elektro (PTE), bukan SMA, itu juga bukan karena melanglangbuana, tapi karena depresi akibat masalah-masalah keluarga di awal perkuliahan, plus lalasutan dalam kuliah setelah masalah-masalah keluarga itu satu persatu beres. Tidak lupa jua ia bercerita tentang temannya dari India yang meramal aku akan menjadi seorang insinyur, nyatanya sekarang aku kuliah di jurusan Sastra. Insinyur bahasa daerah se-Pulau Jawa? #MikirKeras

  • Selamat Jalan Ramalan!


Aku mulai meramal sekitar 5 tahun lalu, waktu itu banyak sekali orang yang bertanya soal masa depan terutama jodohnya, sampai saat kenaikan kelas XII aku pindah ke Bandung dan klien-klienku pun menghilang, meski begitu salah satu klien, sekaligus sahabatku kerap mengirim pesan padaku, soal ramalan-ramalan yang kuucapkan ketika SMA dulu, yang banyak terjadi belakangan ini. Belum lama ini aku mengirim pesan padanya tentang ketidakpercayaanku pada hal-hal itu lagi.
Ramalanku itu tentang masa depannya ketika kuliah, kukatakan kekasihnya itu kelak akan menjadi perempuan bergaya hidup matre dan ia akan dekat dengan banyak perempuan, hubungan mereka renggang tapi selalu bersama yang dalam bahasa Sunda Awet rajet dan beberapa hal terjadi. Ia mempercayai hal-hal yang terjadi itu sebagai hasil ramalanku yang akurat, ia mengabaikan gagalnya ramalanku soal hubungan renggang yang ternyata putus (akibat orang ketiga pula) dan gagalnya kami kuliah di kota yang sama. Kekasihnya yang kini sudah berstatus mantan itu menjadi perempuan bergaya hidup matre sekarang sepertinya karena lingkungan pergaulannya plus kekasihnya sekarang yang kaya.
Oh iya, menjelang lulus SMA aku yang hanya memikirkan FMIPA ITB dan Ushuluddin UIN sebagai kampus tujuanku malah mendapatkan ‘penglihatan’ bahwa aku akan kuliah di Unpad, gerbangnya sampai terbayang. Kini aku memang kuliah di Unpad, itu semua adalah hasil nego dengan ayah soal kuliahku yang berantakan akademis dan non akademis di PTE dan hasil belajar sekitar tiga jam per hari tiga minggu sebelum SBMPTN tahun 2015 dilaksanakan.
Sebenarnya masih banyak ramalan-ramalanku, ibuku, temanku dan orang lain yang tidak terjadi sama sekali atau dapat dijawab dengan kenyataan sebetulnya, tetapi ramalan-ramalan diatas kurasa sudah banyak dipermalukan oleh kenyataan yang menjawabnya tanpa bisa dibantah. Selamat tinggal ramalan, selamat datang cita-cita, semoga terangnya kenyataan menjawab cita-citaku dengan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang menggunakan bahasa tidak baik seperti sara,porno